09/10/18

Masa remaja tanpa hambatan untuk kesehatan jiwa di masa depan



Sebagian besar orang bilang masa remaja merupakan masa terindah dalam hidup, namun sayangnya aku tidak sependapat akan hal ini, karena menurutku lebih tepat kalau masa remaja dikatakan sebagai masa yang paling membingungkan. Sebab dimasa ini semua kenyamanan yang kita peroleh saat masih berlabel anak-anak tidak bisa kita dapatkan lagi, dan disaat yang bersamaan pula kita harus bisa memilih jalan hidup secara dewasa. Gampangnya masa remaja itu semacam masa orientasi menuju kata ‘dewasa’.

Tak sampai disitu, perubahan fisik-biologis pun mau tidak mau akan mempengaruhi kondisi psikologis dari para remaja tersebut. Oleh karena itu tak salah bukan kalau aku katakan masa remaja merupakan masa dalam rentang kehidupan yang dipenuhi dengan berbagai perubahan dan dinamika yang membingungkan.

Padahal, sama seperti sedang berada di persimpangan jalan, saat-saat dimana kita melalui masa remaja tersebut adalah saat yang paling menentukan tujuan hidup kita. Jika dapat melalui masa ini dengan baik maka insya Allah kedepannya hidup pun akan mengarah ke dunia yang lebih baik, begitupun sebaliknya.



Sayangnya, entah karena kurang bimbingan dari orang terdekat atau ada alasan lain, kebanyakan masalah justru datang dari mereka yang juga berada dalam kebingungan melalui masa ini. Yang aku maksud disini adalah kasus bullying yang justru dilakukan oleh sesama remaja tersebut, baik secara nyata maupun secara online.

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia


Nah untuk membahas permasalahan ini lebih lanjut, Kementrian Kesehatan RI pun mengadakan acara temu media dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2018 yang jatuh setiap tanggal 10 Oktober itu. Peringatan hari kesehatan jiwa sedunia yang dikaitkan dengan kasus bullying pada remaja ini menjadi penting mengingat bullying masih menjadi penyebab terbesar dari depresi pada remaja yang berakibat tindakan bunuh diri.

Pada tahun 2018 ini, World Federation of Mental Health (WFMH) menetapkan fokus peringatannya pada generasi muda dan dampak dari perubahan dunia pada generasi muda. Alasan fokus tersebut ya kurang lebih sama dengan apa yang telah aku sampaikan di awal tadi, masa remaja adalah masa penentu kehidupan bagi mereka jadi benar-benar harus dapat dilalui dengan baik tanpa ada hambatan.


Hambatan ketika melewati masa remaja


Ada beberapa hambatan yang mungkin saja akan dilalui ketika melewati fase remaja ini, diantaranya adalah sebagai berikut

Gangguan Emosi


Menurutku wajar saja kalau mereka yang sedang melalui fase remaja ini sedikit mengalami gangguan emosi karena secara psikologis memang mereka sedang berada dalam masa kebingungan. Wajar tapi bukan berarti harus dibiarkan begitu saja, disinilah peran kita sebagai generasi yang pernah melalui masa tersebut sedikit memberikan bimbingan pada mereka.

Jika tidak mendapat bimbingan yang baik gangguan emosi yang wajar ini bisa berakibat fatal dan mengarah pada gejala depresi. Jika sudah depresi maka remaja tersebut akan lebih sulit melanjutkan kehidupannya kearah yang lebih baik

dr Eka Viora, Ketua umum perhimpunan dokter spesialis kedokteran jiwa Indonesia 

Gangguan Makan


Gangguan makan yang sering terjadi pada remaja ini sebenarnya masih ada kaitannya dengan kasus bullying halus seperti celaan yang mengarah pada body shamming misalnya. Jika bullying tersebut terus-terusan dilakukan dan mindset ‘harus kurus’ terpatri begitu dalam maka tidak menutup kemungkinan terjadi gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia.

Psikosis 

Gangguan ini sering terjadi pada masa remaja akhir atau masa awal dewasa. Gejalanya mencakup halusinasi atau mendengar dan melihat hal yang tidak ada serta delusi atau keyakinan yang kuat pada pikiran walau sudah ada bukti yang menyatakan hal tersebut tidak benar.

Entah ada kaitannya atau tidak, tapi aku pun sempat melalui ganguan psikosis dalam bentuk delusi ini. Ada peristiwa yang hingga saat ini aku yakini tidak pernah terjadi meski kenyataannya bukti dan sisa trauma masih kerap hadir dalam keseharianku. Saking yakinnya aku sendiri sampai tidak bisa mengingat dengan jelas kejadiannya seperti apa, hanya sisa trauma sebagai bukti adanya kejadian tersebut yang terus aku ingkari. Dan gangguan delusi ini amat mempengaruhi kehidupan ku selanjutnya, antara kebingungan dengan fakta yang ada serta keyakinan dalam diri yang begitu kuat, dan ini amat tidak mengenakan.

Semua hambatan ini seharusnya sih mudah dilewati dengan pemahaman serta pendampingan dari keluarga terdekat. Jadi melalui perayaan hari kesehatan jiwa sedunia ini yuk kita ingatkan kembali pada keluarga indonesia untuk lebih memperhatikan dan mendampingi remaja nya serta menjadikan keluarga sebagai tempat yang hangat bagi pertumbuhan fisik dan jiwa mereka.

0 komentar:

Posting Komentar