14/09/18

Bijak Kelola Keuangan Keluarga Ala Prita Ghozie di #IbuBerbagiBijak

Bijak Kelola Keuangan


Ada ungkapan yang bilang kalau keuangan itu seperti sepatu kita, jika kekecilan ia akan menjepit dan jika kebesaran ia akan membuat kita mudah tersandung. Ungkapan yang aku sendiri lupa darimana asalnya itu memang seolah menggambarkan kalau yang namanya keuangan keluarga akan lebih baik dalam keadaan yang pas, tidak kurang dan tidak lebih, namun menurutku arti ‘pas’ itu bukan hanya mengacu pada kuantitas nya saja tapi juga kualitasnya.

Mengingat penghasilan yang diterima oleh masing-masing keluarga tidaklah sama, maka kuantitas keuangan keluarga seseorang tidak bisa dijadikan acuan kata ‘pas’ atau ideal tersebut. Aku katakan demikian karena pada kenyataannya orang yang ‘terlihat mapan’ belum tentu memiliki keuangan keluarga lebih ideal dari mereka yang terlihat biasa-biasa saja. Nah untuk mewujudkan keuangan keluarga yang pas ini lah kecakapan dari sang menteri keuangan keluarga akan diuji.

Sayangnya, berdasarkan hasil survey nasional OJK 2016 lalu tingkat literasi dan inklusi keuangan perempuan yang notabene menyandang status sebagai sang menteri keuangan keluarga tadi justru terbilang rendah, yaitu hanya sebesar 25,5 % dan 66,2 %. Angka ini masih agak jauh dibanding tingkat literasi dan inklusi yang dimiliki kaum pria, yaitu 33,2 % dan 69,6 %.

#IbuBerbagiBijak , program literasi keuangan dari Visa


Bijak Kelola keuangan keluarga


Berangkat dari latar belakang inilah akhirnya PT Visa Worldwide Indonesia, selaku perusahaan teknologi pembayaran global terdepan meluncurkan kembali kampanye #IbuBerbagiBijak. Program #IbuBerbagiBijak ini merupakan sebuah program literasi keuangan yang digelar dalam rangka mengedukasi dan mendorong para perempuan untuk berbagi seputar literasi keuangan.

Sesuai dengan konsep Train the train yang diusung, nantinya program ini akan melaksanakan berbagai kegiatan seperti lokakarya dan aktivitas online bersama perwakilan dari sejumlah organisasi perempuan yang berpengaruh, dan nantinya ilmu yang telah diterima selama lokakarya tersebut kembali disebarluaskan ke orang-orang disekitarnya.

Penasaran dengan program ini, membuatku semakin bersemangat ketika berkesempatan untuk ikut hadir dalam workshop literasi keuangan yang diadakan di RPTRA Kopi Gandaria, jakarta selatan beberapa waktu yang lalu. Kegiatan yang juga mengundang para ibu PKK sebagai perwakilan dari masyarakat setempat itu menghadirkan Ibu Prita Ghozie, sang financial educator idolaku, dan Kak Gina, seorang womenpreuner pemilik Gamara Leather, sebagai pembicaranya.

Prita Ghozie, Financial Educator

Kurang lebih sama dengan pembahasan yang sering diulas dalam program #IbuBerbagiBijak ditempat lain, workshop kali ini bertema Bijak Kelola Keuangan, kunci keluarga dan masa depan sejahtera. Dan lagi-lagi ibu Prita Ghozie seolah kembali menyentil ku dengan materi-materi yang ia berikan dengan gayanya yang santai namun tetap berbobot itu.

Bijak kelola keuangan keluarga ala Prita Ghozie

Menurut ibu Prita Ghozie, ada tiga hal utama yang harus kita lakukan agar dapat memiliki keuangan yang pas atau ideal tadi, diantaranya adalah melakukan financial check up, mengelola arus kas dan melakukan perencanaan keuangan. Ketiga hal ini menjadi penting, karena jika kita bisa melakukan ketiga nya dengan baik maka insya Allah pencapaian keuangan keluarga yang ideal bukanlah hal yang sulit dilakukan.

1. Melakukan Financial Check Up


Kurang lebih sama dengan kesehatan kita yang harus selalu melalui pemeriksaan rutin, kondisi keuangan keluarga pun ternyata juga harus melalui proses financial check up. Ada beberapa lini yang semestinya secara rutin kita cek agar kondisi keuangan keluarga kita senantiasa sehat dan ideal, diantaranya adalah sebagai berikut:

Bijak Kelola keuangan keluarga

Utang


Cek terlebih dahulu, apakah kita masih memiliki tanggungan utang...? jika iya, cek lagi apakah utang kita diatas 30% dari total pemasukan bulanan kita atau tidak...? pertanyaan kedua ini mengacu pada besaran utang ideal yang seharusnya dimiliki oleh kita. Jika masih dibawah 30% berarti masih terbilang aman, dengan catatan utang yang dimaksud disini bukanlah utang konsumtif ya...

Jika saat financial check up ini ditemukan besaran utang yang sudah diatas 30% dari pemasukan, memang sudah dalam kategori keuangan keluarga yang tidak sehat. Meski begitu bukan suatu hal yang mustahil juga nantinya secara perlahan di rawat agar keuangan keluarga tersebut jadi lebih sehat. Ingat selalu salah satu manfaat dari financial check up ini ya untuk dapat  lebih dini mendeteksi kesehatan keuangan keluarga tersebut, jadi jika ditemukan penyakitdapat segera ditangani sebelum kritis.

Biaya Hidup


Setelah mengecek utang kita, ada baiknya kita juga mengecek apakah biaya hidup yang kita keluarkan tuh jauh lebih besar dari pemasukan atau tidak...? karena siapa tau biaya hidup yang membengkak itu malah menjadi sumber masalah dari kondisi keuangan keluarga kita yang tidak sehat. Biaya hidup yang dimaksud disini adalah biaya wajib yang secara rutin kita keluarkan tiap bulannya guna memenuhi kebutuhan hidup kita.

Dana Darurat


Setiap keluarga semestinya memiliki dana darurat yang bisa digunakan sewaktu-waktu. Menurut bu Prita, dana keuangan ideal yang seharusnya disiapkan oleh kita adalah sebesar tiga kali biaya hidup bulanan kita, jadi jika biaya hidup kita per bulan adalah 5 juta, maka sama artinya dana darurat yang seharusnya kita siapkan adalah sebesar Rp 15 juta.

Dana darurat ini hanya boleh dipakai dalam situasi yang benar-benar darurat saja, tentunya disesuaikan dengan situasi darurat versi keluarga masing-masing. Baiknya sih, dana darurat ini di simpan dalam satu rekening terpisah yang bisa diakses oleh semua anggota keluarga ya...

Tabungan


Tabungan yang aku maksud disini adalah dana tabungan yang sebenarnya ya, bukan dana yang katanyaadalah tabungan. Seperti namanya, Tabungan, berarti dana yang disimpan secara tetap untuk mewujudkan suatu impian, jadi bukan tabunganyang bisa diambil sewaktu-waktu pastinya.

Dalam financial check up, mengecek tabungan yang kita miliki juga amat berperan dalam pengelolaan keuangan keluarga. Kondisi keuangan keluarga dapat dikatakan sehat jika telah memiliki tabungan yang cukup.

2. Mengelola Arus Kas


Setelah mengecek keempat hal tersebut, kita pun dapat melanjutkan ke tahap selanjutnya untuk mencapai kondisi keuangan keluarga yang sehat, yaitu mengelola arus kas. Mengelola arus kas menjadi amat penting karena seteliti apapun kita mengecek keuangan tadi, tidak akan ada artinya tanpa pengelolaan kas yang baik.



Ada satu quotes dari bu Prita yang masih berkaitan dengan pengelolaan arus kas ini, its not how much you make, but how much you spend. Atau jika kita terjemahkan kurang lebih berarti, bukan masalah berapapun pemasukan mu, tapi bagaimana caramu mengelola pengeluarannya.

Mudahnya adalah, sebesar apapun pemasukan seseorang akan sia-sia jika tanpa pengelolaan yang baik, begitupun sebaliknya. Nah dalam mengelola kas ini, bu prita pun memberikan tips besaran ideal alokasi kas tersebut, berikut diantaranya:

ü Zakat sebesar 5% dari total pemasukan
ü Dana darurat 10% dari total pemasukan
ü Biaya Hidup 30% dari total pemasukan
ü Investasi 15% dari total pemasukan
ü Utang 30% dari total pemasukan
ü Gaya hidup 10% dari total pemasukan

Namun sekali lagi bu prita menekankan, alokasi diatas hanyalah tips ideal yang ia berikan, tapi kembali lagi, semuanya bisa disesuaikan pada penerapan yang ada dikeluarga masing-masing pastinya.

3. Melakukan Perencanaan Keuangan
 

Setelah melalui financial check up dan lolos pengelolaan arus kas dengan manis, tentunya kita juga ingin memiliki kondisi keuangan keluarga yang satu tingkat lebih baik dari sekedar pas saja alias lebih mapan. Nah agar kata mapan ini dapat kita sandang, maka perencanaan keuangan jangka panjang akan dibutuhkan disini.

Selain investasi yang tepat, sebenarnya kita juga memiliki langkah lain yang bisa kita ambil loh, salah satunya adalah dengan menjadi womenpreuner seperti yang dilakukan oleh mbak Gina, owner dari Gamara Leather yang juga ikut hadir sebagai nara sumber dalam acara #IbuBerbagiBijak ini. Awalnya memang sulit, tapi jika kita memiliki tekad, insya Allah pasti bisa, begitu ungkap mbak Gina.

Daaaannnn terakhir aku cuma mau bilang kalau kita sebagai sang menteri keuangan dalam keluarga tuh harus mau belajar agar melekliterasi keuangan, karena dengan kebijakan kita dalam mengelola keuangan keluarga ini insya Allah akan memeberi dampak besar pada kondisi keuangan keluarga kita. So, jangan malas untuk belajar ya moms... Btw, sudah cek kondisi keuangan keluargamu hari ini...? yuk buka buku catatanmu, dan catat serta kelola keuanganmu dengan baik moms...




8 komentar:

  1. gak ada kata terlambat, mulai aja dari sekarang ya supaya bisa mengatur keuangan untuk keluarga

    BalasHapus
  2. Apalagi kita sebagai seoarang istri ya mbak harus pandai mengatur keuangan , tips2 nya oke semua nih mbak. Ilmu baru lagi buat aku dalam mengatur keuangan biar semakin bijak ...

    BalasHapus
  3. Financial chek up ini yang sering saya abaikan. Padahal sebagai manager rumah tangga cash flow anggaran harus dicermati ya. Mulai belajar disiplin nih ah. Jangan sampai keuangan keluarga kesakitan hehehe

    BalasHapus
  4. Ternyata iya, mesti bersama-sama melakukan financial check up nih, biar tau kondisi keuangan sebenarnya.

    BalasHapus
  5. Untuk dana darurat nih yg masih agak susah.

    BalasHapus
  6. Pas dan berkah memang lebih ideal ya Mbak. Setuju keluarga yang malan atau mepet belum tentu punya kondisi keuangan yang ideal. Makin mapan, makin banyak jajan malah bisa bikin kondisi kantong jadi makin berkurang.

    BalasHapus
  7. Saya jadi tahu banyak apa saja yg harus dikelola dalam dunia keuangan dalam keluarga, makasih banyak ya mbaa

    BalasHapus
  8. Ntar kalau kita ketemu sharing tentang bijak mengelola keuangan ya Mba. Asli perlu belajar lagi mengelola yang satu ini.

    BalasHapus