15/09/18

Ciptakan lingkungan rumah yang sehat untuk mendukung tumbuh kembang anak



Dalam urusan mendampingi tumbuh kembang anak memang tidak ada patokan benar dan salah, yang ada hanyalah cocok dan tidak cocok diterapkan pada masing-masing keluarga. Jujur, aku sendiri agak kurang setuju dengan penerapan pendidikan anak usia dini yang lazim diterapkan pada lembaga PAUD/TK kebanyakan.

Sistem yang seolah agak ‘memaksa’ anak belajar mengenal abjad dan angka itu rasanya terlalu kejam jika diterapkan pada mereka yang kita sebut buah hati tersebut. Lembaga yang tidak menerapkan sistem ‘belajar paksa’ ini bukannya tidak ada sama sekali sih, tapi kalaupun ada biaya yang dibebankan pada kita cukup membuat kantong jebol saking mahalnya.

Berangkat dari latar belakang inilah metode montessori di rumah pun mulai banyak dilirik oleh para moms yang tidak ingin anaknya ‘dipaksa belajar’. ya, metode ini memang dianggap cukup baik untuk membantu perkembangan sosial, emosional dan kognitif anak dengan cara bermain sambil belajar yang diterapkannya.

NIPPON SPOT-LESS PLUS and ART in the Montessori Environment


Aku sendiri juga cukup tertarik dengan metode montessori di rumah ini, karena ternyata bisa menggunakan alat dan bahan yang ada disekitar rumah saja. Saking tertariknya dengan metode ini, membuatku jadi makin bersemangat untuk menghadiri acara bertajuk NIPPON SPOT-LESS PLUS and ART in the Montessori Environment beberapa waktu yang lalu.

Rumah Sehat
Elvina Lim Kusumo


Dalam acara yang berlangsung di Mamain Cafe, Jakarta Selatan tersebut menghadirkan Elvina Lim Kusumo sang Pendiri IndonesiaMontessori.com serta founder dan penulis seri buku montessori dirumah yang pastinya amat handal dalam bidang ini. Dalam materinya kak Elvina pun menyampaikan kalau mendidik anak tuh perlu didukung oleh penggunaan semua inderanya agar dapat memaksimalkan proses belajarnya.

Tidak seperti kurikulum di sekolah, pada metode montessori ini anak diajak belajar mengenal lingkungan sekitarnya dengan cara yang menyenangkan seperti membuat sebuah prakarya misalnya. Ketika kita mengajak anak membuat prakarya ia akan sekaligus mempelajari tekstur dari bahan yang digunakan, manfaat dari hasil prakaryanya, dan lain sebagainya.

Seringkali hasil yang dibuat oleh anak memang tidak seperti harapan kita, para ibunya, namun bukan berarti metode ini salah, karena tidak sesuai harapan kita berarti anak akan terus belajar dengan caranya masing-masing yang tentu mereka sukai. Dengan cara ini anak pun akan lebih berani mengekspresikan semua yang mereka pikirkan, sehingga akan membantu mereka berpikir kritis, dan inovatif yang nantinya akan berguna untuk perkembangan otak dan bekal mereka di masa depan.



Tak sampai disitu, Kak Elvina pun menyampaikan tentang beberapa hal yang harus kita persiapkan untuk menerapkan metode ini dirumah masing-masing, berikut diantaranya:

1. Siapkan sudut seni

Sudut seni yang dimaksud disini adalah suatu sudut atau spot yang memang kita siapkan untuk anak bereksplorasi sepuasnya. Baiknya sudut ini dibuat sedemikian rupa agar terlihat indah, menarik, mengundang anak untuk datang kesitu dan tentunya bersih.

2. Tray Kegiatan seni

Kak Elvina menyarankan agar pada sudut seni yang telah kita siapkan tadi itu juga disediakan Tray kegiatan seni. Sebisa mungkin tray ini sudah dilengkapi dengan alat-alat seni ringan yang bisa langsung diakses oleh sikecil dengan mudah

3. Real Tools, Child Size

Alat yang disiapkan di tray tadi baiknya merupakan alat yang sebenarnya, misal gunting ya sediakan gunting asli jangan gunting mainan. Tapi selalu ingat, sediakan alat sesuai ukuran anak kita ya...

4. Bahan-bahan

Nah didalam tray tadi juga jangan lupa kita letakkan bahan-bahan yang bisa ‘disulap’oleh sikecil menjadi karya seni versi mereka. Bahan disini tidak harus yang sulit-sulit kok, bisa dengan menggunakan barang bekas saja seperti bekas gulungan tisu atau karton susu bekas misalnya.

O iya ada satu hal lagi yang tidak kalah penting dalam penerapan metode montessori dirumah ini, yaitu menciptakan lingkungan rumah yang sehat dan menyenangkan. Kenapa...? karena berdasarkan survey yang dilakukan kepada 200 orangtua di tahun 2017 lalu didapatkan data bahwa 70% orang tua mengatakan anak mereka menghabiskan waktu didalam ruangan sekitar 8-20 jam setiap harinya. Meski begitu ternyata masih banyak yang belum bisa menciptakan lingkungan rumah yang sehat.

Aku katakan demikian karena 86% dari mereka mengaku masih mengabaikan kebersihan dindingnya, padahal seperti kita ketahui bersama, dinding adalah permukaan yang paling luas didalam rumah dan paling sering bersinggungan langsung dengan anak, apalagi bagi mereka yang masih berusia batita.

Nippon Paint Spot Less Plus dukung tumbuh kembang anak melalui rumah yag sehat


Tapi tenang saja, saat ini Nippon Paint pun sudah meluncurkan Nippon Paint Spot-Less Plus untuk mengatasi permasalahan tersebut. Nippon Paint Spot-Less Plus ini adalah cat premium interior dengan formulasi anti noda  dan anti kuman sehingga noda mudah dibersihkan dan memberikan perlindungan secara efektif dari berbagai jenis kuman.

Produk ini memiliki formula Silver-Ion yang telah lulus uji anti-mikrobial dari SETSCO (Lembaga akreditasi dari Singapura) mampu membasmi bakteri pada dinding, sehingga balita yang sedang belajar berdiri atau berjalan dapat dengan aman bersentuhan langsung dengan permukaan dinding.
 
perbandingan anti noda antara nippon paint spot-less plus dengan brand lain
Tak hanya itu saja, Nippon Spot-Less Plus ini juga dilengkapi dengan Stain Guard yang memungkinkan kita mudah membersihkan noda akibat aktivitas eksplorasi anak pada dinding rumah. Dan terakhir, Nippon Spot-Less Plus ini tidak mengandung VOC (Volatile Organic Compound) sehingga kita dapat lebih nyaman bernapas.

Jadi, dengan menggunakan Nippon Paint Spot-Less Plus ini kita pun bisa menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman bagi keluarga khususnya untuk mendukung tumbuh kembang anak pastinya. Aku aja udah mulai mau ganti cat rumahku dengan si kece Nippon Paint Spot-Less Plus ini, kalau moms semua bagaimana...? masa ga mau sih punya lingkungan rumah yang sehat juga... ?! Hehehe...



14/09/18

Bijak Kelola Keuangan Keluarga Ala Prita Ghozie di #IbuBerbagiBijak

Bijak Kelola Keuangan


Ada ungkapan yang bilang kalau keuangan itu seperti sepatu kita, jika kekecilan ia akan menjepit dan jika kebesaran ia akan membuat kita mudah tersandung. Ungkapan yang aku sendiri lupa darimana asalnya itu memang seolah menggambarkan kalau yang namanya keuangan keluarga akan lebih baik dalam keadaan yang pas, tidak kurang dan tidak lebih, namun menurutku arti ‘pas’ itu bukan hanya mengacu pada kuantitas nya saja tapi juga kualitasnya.

Mengingat penghasilan yang diterima oleh masing-masing keluarga tidaklah sama, maka kuantitas keuangan keluarga seseorang tidak bisa dijadikan acuan kata ‘pas’ atau ideal tersebut. Aku katakan demikian karena pada kenyataannya orang yang ‘terlihat mapan’ belum tentu memiliki keuangan keluarga lebih ideal dari mereka yang terlihat biasa-biasa saja. Nah untuk mewujudkan keuangan keluarga yang pas ini lah kecakapan dari sang menteri keuangan keluarga akan diuji.

Sayangnya, berdasarkan hasil survey nasional OJK 2016 lalu tingkat literasi dan inklusi keuangan perempuan yang notabene menyandang status sebagai sang menteri keuangan keluarga tadi justru terbilang rendah, yaitu hanya sebesar 25,5 % dan 66,2 %. Angka ini masih agak jauh dibanding tingkat literasi dan inklusi yang dimiliki kaum pria, yaitu 33,2 % dan 69,6 %.

#IbuBerbagiBijak , program literasi keuangan dari Visa


Bijak Kelola keuangan keluarga


Berangkat dari latar belakang inilah akhirnya PT Visa Worldwide Indonesia, selaku perusahaan teknologi pembayaran global terdepan meluncurkan kembali kampanye #IbuBerbagiBijak. Program #IbuBerbagiBijak ini merupakan sebuah program literasi keuangan yang digelar dalam rangka mengedukasi dan mendorong para perempuan untuk berbagi seputar literasi keuangan.

Sesuai dengan konsep Train the train yang diusung, nantinya program ini akan melaksanakan berbagai kegiatan seperti lokakarya dan aktivitas online bersama perwakilan dari sejumlah organisasi perempuan yang berpengaruh, dan nantinya ilmu yang telah diterima selama lokakarya tersebut kembali disebarluaskan ke orang-orang disekitarnya.

Penasaran dengan program ini, membuatku semakin bersemangat ketika berkesempatan untuk ikut hadir dalam workshop literasi keuangan yang diadakan di RPTRA Kopi Gandaria, jakarta selatan beberapa waktu yang lalu. Kegiatan yang juga mengundang para ibu PKK sebagai perwakilan dari masyarakat setempat itu menghadirkan Ibu Prita Ghozie, sang financial educator idolaku, dan Kak Gina, seorang womenpreuner pemilik Gamara Leather, sebagai pembicaranya.

Prita Ghozie, Financial Educator

Kurang lebih sama dengan pembahasan yang sering diulas dalam program #IbuBerbagiBijak ditempat lain, workshop kali ini bertema Bijak Kelola Keuangan, kunci keluarga dan masa depan sejahtera. Dan lagi-lagi ibu Prita Ghozie seolah kembali menyentil ku dengan materi-materi yang ia berikan dengan gayanya yang santai namun tetap berbobot itu.

Bijak kelola keuangan keluarga ala Prita Ghozie

Menurut ibu Prita Ghozie, ada tiga hal utama yang harus kita lakukan agar dapat memiliki keuangan yang pas atau ideal tadi, diantaranya adalah melakukan financial check up, mengelola arus kas dan melakukan perencanaan keuangan. Ketiga hal ini menjadi penting, karena jika kita bisa melakukan ketiga nya dengan baik maka insya Allah pencapaian keuangan keluarga yang ideal bukanlah hal yang sulit dilakukan.

1. Melakukan Financial Check Up


Kurang lebih sama dengan kesehatan kita yang harus selalu melalui pemeriksaan rutin, kondisi keuangan keluarga pun ternyata juga harus melalui proses financial check up. Ada beberapa lini yang semestinya secara rutin kita cek agar kondisi keuangan keluarga kita senantiasa sehat dan ideal, diantaranya adalah sebagai berikut:

Bijak Kelola keuangan keluarga

Utang


Cek terlebih dahulu, apakah kita masih memiliki tanggungan utang...? jika iya, cek lagi apakah utang kita diatas 30% dari total pemasukan bulanan kita atau tidak...? pertanyaan kedua ini mengacu pada besaran utang ideal yang seharusnya dimiliki oleh kita. Jika masih dibawah 30% berarti masih terbilang aman, dengan catatan utang yang dimaksud disini bukanlah utang konsumtif ya...

Jika saat financial check up ini ditemukan besaran utang yang sudah diatas 30% dari pemasukan, memang sudah dalam kategori keuangan keluarga yang tidak sehat. Meski begitu bukan suatu hal yang mustahil juga nantinya secara perlahan di rawat agar keuangan keluarga tersebut jadi lebih sehat. Ingat selalu salah satu manfaat dari financial check up ini ya untuk dapat  lebih dini mendeteksi kesehatan keuangan keluarga tersebut, jadi jika ditemukan penyakitdapat segera ditangani sebelum kritis.

Biaya Hidup


Setelah mengecek utang kita, ada baiknya kita juga mengecek apakah biaya hidup yang kita keluarkan tuh jauh lebih besar dari pemasukan atau tidak...? karena siapa tau biaya hidup yang membengkak itu malah menjadi sumber masalah dari kondisi keuangan keluarga kita yang tidak sehat. Biaya hidup yang dimaksud disini adalah biaya wajib yang secara rutin kita keluarkan tiap bulannya guna memenuhi kebutuhan hidup kita.

Dana Darurat


Setiap keluarga semestinya memiliki dana darurat yang bisa digunakan sewaktu-waktu. Menurut bu Prita, dana keuangan ideal yang seharusnya disiapkan oleh kita adalah sebesar tiga kali biaya hidup bulanan kita, jadi jika biaya hidup kita per bulan adalah 5 juta, maka sama artinya dana darurat yang seharusnya kita siapkan adalah sebesar Rp 15 juta.

Dana darurat ini hanya boleh dipakai dalam situasi yang benar-benar darurat saja, tentunya disesuaikan dengan situasi darurat versi keluarga masing-masing. Baiknya sih, dana darurat ini di simpan dalam satu rekening terpisah yang bisa diakses oleh semua anggota keluarga ya...

Tabungan


Tabungan yang aku maksud disini adalah dana tabungan yang sebenarnya ya, bukan dana yang katanyaadalah tabungan. Seperti namanya, Tabungan, berarti dana yang disimpan secara tetap untuk mewujudkan suatu impian, jadi bukan tabunganyang bisa diambil sewaktu-waktu pastinya.

Dalam financial check up, mengecek tabungan yang kita miliki juga amat berperan dalam pengelolaan keuangan keluarga. Kondisi keuangan keluarga dapat dikatakan sehat jika telah memiliki tabungan yang cukup.

2. Mengelola Arus Kas


Setelah mengecek keempat hal tersebut, kita pun dapat melanjutkan ke tahap selanjutnya untuk mencapai kondisi keuangan keluarga yang sehat, yaitu mengelola arus kas. Mengelola arus kas menjadi amat penting karena seteliti apapun kita mengecek keuangan tadi, tidak akan ada artinya tanpa pengelolaan kas yang baik.



Ada satu quotes dari bu Prita yang masih berkaitan dengan pengelolaan arus kas ini, its not how much you make, but how much you spend. Atau jika kita terjemahkan kurang lebih berarti, bukan masalah berapapun pemasukan mu, tapi bagaimana caramu mengelola pengeluarannya.

Mudahnya adalah, sebesar apapun pemasukan seseorang akan sia-sia jika tanpa pengelolaan yang baik, begitupun sebaliknya. Nah dalam mengelola kas ini, bu prita pun memberikan tips besaran ideal alokasi kas tersebut, berikut diantaranya:

ü Zakat sebesar 5% dari total pemasukan
ü Dana darurat 10% dari total pemasukan
ü Biaya Hidup 30% dari total pemasukan
ü Investasi 15% dari total pemasukan
ü Utang 30% dari total pemasukan
ü Gaya hidup 10% dari total pemasukan

Namun sekali lagi bu prita menekankan, alokasi diatas hanyalah tips ideal yang ia berikan, tapi kembali lagi, semuanya bisa disesuaikan pada penerapan yang ada dikeluarga masing-masing pastinya.

3. Melakukan Perencanaan Keuangan
 

Setelah melalui financial check up dan lolos pengelolaan arus kas dengan manis, tentunya kita juga ingin memiliki kondisi keuangan keluarga yang satu tingkat lebih baik dari sekedar pas saja alias lebih mapan. Nah agar kata mapan ini dapat kita sandang, maka perencanaan keuangan jangka panjang akan dibutuhkan disini.

Selain investasi yang tepat, sebenarnya kita juga memiliki langkah lain yang bisa kita ambil loh, salah satunya adalah dengan menjadi womenpreuner seperti yang dilakukan oleh mbak Gina, owner dari Gamara Leather yang juga ikut hadir sebagai nara sumber dalam acara #IbuBerbagiBijak ini. Awalnya memang sulit, tapi jika kita memiliki tekad, insya Allah pasti bisa, begitu ungkap mbak Gina.

Daaaannnn terakhir aku cuma mau bilang kalau kita sebagai sang menteri keuangan dalam keluarga tuh harus mau belajar agar melekliterasi keuangan, karena dengan kebijakan kita dalam mengelola keuangan keluarga ini insya Allah akan memeberi dampak besar pada kondisi keuangan keluarga kita. So, jangan malas untuk belajar ya moms... Btw, sudah cek kondisi keuangan keluargamu hari ini...? yuk buka buku catatanmu, dan catat serta kelola keuanganmu dengan baik moms...




08/09/18

penggunaan gadget pada anak dan kolaborasi tiga kurikulum di SIS Bonavista



Terkadang kita sebagai orang tua tuh lupa kalau ternyata mencintai anak saja tidaklah cukup. Hal terpentingnya justru adalah apakah si anak telah benar-benar merasakan cinta yang ‘katanya’ telah kita berikan pada mereka. Jujur, ungkapan ini juga sedikit menamparku, karena ketika tulisan ini dibuat pun aku masih merasa belum maksimal memberikan cinta pada anak-anakku, rasanya tak sampai hati lah untuk menanyakan apakah mereka telah merasakan cinta yang masih teramat kecil tersebut.

Tak hanya itu saja, banyak juga dari kita, para orang tua yang malah jadi salah kaprah dalam mengartikan kata ‘cinta pada anak’. Saking sayangnya pada anak, tak jarang banyak orang tua yang memberikan semua keinginan mereka tanpa berpikir lebih jauh soal dampak nya pada perkembangan anak, seperti dalam hal pemberian gadget misalnya.

Atas dasar sayang, begitu kata mereka. Tapi tahukah moms ternyata pemberian gadget pada anak dibawah usia 13 tahun bukanlah suatu tindakan bijak...? kenapa...? karena ada begitu banyak dampak buruk dari paparan gadget yang terlalu dini tersebut. Pengetahuan soal ini aku dapatkan ketika aku berkesempatan untuk ikut hadir dalam acara moms blogger gathering di SIS Bona vista beberapa waktu yang lalu.

Elizabeth T Santosa, psikolog


Menurut psikolog cantik bernama lengkap Elizabeth T Santosa, alih alih menyalahkan gadget, agaknya akan lebih tepat jika kita mulai melakukan evaluasi dulu apakah penggunaan gadget yang kita terapkan dirumah tuh sudah benar atau belum. Kalau dipikir-pikir, secara hukum saja, penggunaan gadget pada anak usia dibawah 13 tahun sudah merupakan pelanggaran hukum karena saat ini memang telah ada undang-undang yang mengatur soal ini.

Tentunya penerapan undang-undang tersebut bukanlah tanpa alasan, seperti yang sudah aku tekankan diawal, pemberian gadget yang terlalu dini akan memiliki resiko yang cukup besar, contohnya anak jadi kurang gerak fisik, kurang empati, dan lain sebagainya. Namun sebenarnya jika dapat diterapkan dengan positif maka gadget itu juga bisa menjadi ‘alat’ bagi anak untuk menuju kesuksesan dimasa depan.

Yup, meski memiliki segudang dampak negatif ternyata gadget juga memiliki beberapa sisi positif yang patut juga dirasakan oleh anak kita tersayang, seperti anak jadi lebih mudah menerima perubahan dan lebih kreatif.

Salah satu ruang kelas di SIS Bonavista


Sepertinya hal ini juga lah yang kemudian melatar belakangi SIS bona vista dalam penerapan tiga kurikulumnya sekaligus, yaitu kurikulum Singapura, Cambridge, dan IB. Dalam ketiga kurikulum Singapore School yang didirikan pada tahun 1996 tersebut aku menemukan kolaborasi cantik antara penggunaan gadget dan aktivitas fisik serta penggalian kreativitas para muridnya dalam design interior setiap sudut sekolahnya.

Sekolah ini merupakan sekolah intercultural dengan muridnya yang sebagian besar berasal dari keluarga berkebangsaan lain yang kebetulan sedang stay sementara di Indonesia, makanya tak heran kalau bahasa yang digunakan di sekolah ini tak melulu menggunakan bahasa indonesia saja. Setidaknya ada tiga bahasa wajib yang selalu diterapkan dilingkungan Singapore International School ini, diantaranya adalah Bahasa inggris selaku bahasa international kita, bahasa indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa mandarin karena memang sebagian besar muridnya berkebangsaan cina.

Ruang perpustakaan


Design eksterior maupun interiornya bener-bener keren loh, saking kerennya sampai tidak berasa sedang berada dalam lingkungan sekolah. Pada setiap lorongnya didesign sedemikian rupa sehingga tidak akan ada kesan kaku layaknya suasana yang biasa kita temui. Uniknya adalah semua hiasan serta ornamen yang ada di SIS Bonavista merupakan hasil karya dari para siswanya sendiri.

O iya keunggulan lain yang aku temui ketika aku diajak tur mengelilingi sekolah tersebut adalah jumlah muridnya yang hanya berkisar 20-25 orang saja per kelas. Agak berbeda ya dengan sekolah reguler yang jumlah siswanya bisa mencapai 40 orang per kelas. Design interior dari masing-masing kelas nya pun amat cantik disesuaikan dengan identitas dari kelas-kelas tersebut.

salah satu sudut kece di SIS Bonavista


Dari segi fasilitas penunjang pun sudah tidak usah ditanya lagi lah ya, SIS Bona vista memiliki fasilitas yang teramat lengkap, mulai dari laboratorium penunjang, hingga fasilitas olahraga seperti lapangan basket dan lapangan futsal, kolam renang dan lain sebagainya.

Mantab bukan SIS Bona vista ini moms...? duuuhhh andai aja lokasinya dekat dengan rumah ya...
O iya buat yang pengen tau lebih jauh soal SIS Bona vista ini bisa langsung datang saja ke SIS Bona vista Jl Bonavista raya, lebak bulus Jakarta.











Perubahan manis BPJS Kesehatan lewat fase kedua Sistem Rujukan Online

Rujukan online BPJS Kesehatan


Kehidupan adalah seni terbesar yang harus kita ukir dengan baik tanpa ada alat untuk menghapusnya. Ya, sebesar apapun kesalahan yang telah kita buat dalam hidup ini,kita tidak akan pernah bisa menghapusnya sama sekali, yang bisa kita lakukan hanya mengoreksi nya agar tidak terulang kembali di masa depan.

Kurang lebih sama dengan ungkapan diatas, saat ini BPJS Kesehatan selaku Jaminan Kesehatan Nasional sedang melakukan koreksi disana-sini demi melakukan sebuah perubahan kearah yang lebih baik. Salah satu koreksi yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan adalah dari segi sistem rujukannya yang mulai diberlakukan sistem rujukan berbasis online.

Di tulisanku sebelumnya, aku pernah mengulas soal apa itu sistem rujukan online dan alasan serta tujuan diterapkannya sistem rujukan online tersebut yang bisa kalian baca disini. Dalam tulisan tersebut, sempat aku ulas sedikit tentang fase-fase berkaitan digitalisasi sistem rujukan pada BPJS Kesehatan ini, namun karena saat itu info yang aku dapatkan memang belum terlalu lengkap maka pembahasan soal fase-fase dari penerapan sistem rujukan online pun terasa kurang maksimal.

Rujukanonline BPJS Kesehatan


Alhamdulillah demi melengkapi informasi yang berkaitan dengan hal ini, BPJS Kesehatan pun kembali mengadakan acara Ngopi bareng JKN-KIS pada tanggal 3 Septemer 2018 lalu. Dalam acara tersebut, bapak Arief Syaifuddin selaku Deputi Direksi Bidang Pelayanan Peserta BPJS Kesehatan menjelaskan soal ketiga fase yang akan dilalui demi menyukseskan penerapan digitalisasi rujukan ini, berikut diantaranya,

1. Fase 1 atau Fase Pengenalan,

Pada fase yang berlangsung tanggal 15-31 Agustus 2018 ini, meski rumah sakit masih menggunakan rujukan manual diharapkan FKTP-FKTP nya sudah menggunakan aplikasi Pcare untuk merujuk pasien-pasiennya.

2. Fase 2 atau Fase penguncian,

Nah kalau pada fase pertama penerapan sistem ini terkesan belum saklek, pada fase yang berlangsung tanggal 1-15 september 2018 ini, semua FKTP wajib menggunakan aplikasi Pcare untuk merujuk kecuali untuk FKTP yang terkendala akses internet dan Rumah sakit pun hanya menerima rujukan online saja.

3. Fase 3 atau Fase pengaturan,

Pada fase yang berlangsung tanggal 16-30 september 2018 ini diharapkan sistem digitalisasi rujukan sudah memasuki tahap pengaturan seperti pembenahan data dokter spesialis serta kapasitas rumah sakit rujukannya.

Rujukanonline BPJS Kesehatan


Berdasarkan ketiga fase tersebut, maka kita akan langsung paham deh kalau saat ini tuh sistem rujukan online telah berhasil melalui fase pertama atau fase pengenalannya. Di fase uji coba ini, BPJS Kesehatan banyak mengambil sisi positif dari penerapan digitalisasi rujukan serta sekaligus melakukan evaluasi-evaluasi pada beberapa hal yang memang masih harus diperbaiki.

Sebagai contoh, menurut data yang ada, setelah melalui fase pertama, telah terkumpul data rumah sakit rujukan beserta dokter spesialis/subspesialis berikut jadwal prakteknya. Tak hanya itu saja Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) pun telah berhasil teredukasi untuk lebih disiplin menggunakan aplikasi P-Care dan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) nya juga senantiasa melengkapi dan meng-update data kompetensi dan sarana, dan yang paling utama adalah peserta JKN-KIS sebagai ‘raja’ dalam sistem ini pun banyak yang sudah mengenal konsep digitalisasi rujukan tersebut.

Meski belum sempurna tapi paling tidak di fase pertama nya sistem rujukan online ini sudah ada 19.937 FKTP yang dapat mengakses aplikasi P-Care secara realtime online dan siap memasuki fase kedua yaitu, fase penguncian. Sementara untuk FKTP yang memang masih terkendala jaringan komunikasi dan data (Jarkomdat) dimungkinkan untuk menggunakan rujukan manual nya.

Perbaikan serta evaluasi pun masih terus mengiringi perjalanan sistem rujukan online melalui ketiga fase tadi. Adanya sedikit kesalahan-kesalahan kecil dalam penerapannya justru akan dijadikan sebagai pembelajaran demi suksesnya sistem ini. Jadi, daripada sibuk mengkritik proses pembelajaran ini ada baiknya kita mendukung nya saja. Toh semua perubahan yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan tuh semata-mata untuk memanjakan kita, para peserta nya...

O iya insya Allah diakhir fase kedua ini BPJS Kesehatan akan mengupdate kembali info-info yang berkaitan dengan sisitem rujukan online ini lewat acara ngopi bareng BPJS Kesehatan yang secara rutin dilakukan. Nantikan info selanjutnya di tulisanku mendatang ya teman....




05/09/18

Siap Sekolah Lagi Dengan Printer InkTank A3 Brother



Insya Allah kalau tidak ada aral melintang, tahun depan aku akan melanjutkan sekolah lagi. Mengingat posisiku yang saat ini bukan lagi berstatus lajang, maka urusan sekolah lagi ini pun menjadi hal yang benar-benar harus dipersiapkan  dengan matang baik itu urusan rumah maupun urusan kelengkapan peralatan penunjang sekolahku itu sendiri. Jangan sampai ketika tiba waktunya aku justru masih disibukkan dengan hal-hal remeh temeh yang seharusnya bisa aku siapkan dari jauh-jauh hari.

Untuk urusan rumah aku tidak terlalu memikirkannya karena alhamdulillah hal itu akan sepenuhnya dihandel oleh suamiku, dan aku pun bisa fokus pada persiapan sekolah lagi tersebut saja. Namun untuk urusan perlengkapan serta segala sesuatu yang berhubungan dengan keinginanku melanjutkan sekolah tersebut harus sepenuhnya aku tangani sendiri.

Berbekal info dari seorang teman yang telah lebih dulu melanjutkan sekolah lagi, aku pun membuat list barang-barang wajib yang harus kusiapkan, dan ternyata ada beberapa peralatan yang belum kumiliki, salah satunya printer. Hal inilah yang kemudian membuatku jadi sedikit rajin membuka halaman demi halaman dari e-commerce untuk sekedar melirik dan membandingkan harga printer andalan.



Hasilnya adalah saat ini aku sedang kepincut dengan Printer InkTank A3 Brother yang merupakan printer baru keluaran PT Brother Indonesia. Ada segudang alasan yang membuatku jatuh hati pada printer ini, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Lebih Hemat

Karena teknologi tinta refill inkjet printer yang diterapkan dalam printer terbaik ini membuatnya dapat mencetak lebih banyak 6500 halaman untuk warna hitam dan 5000 halaman untuk yang berwarna dalam satu kali isi ulang saja. Tak hanya itu saja, printer ini memungkinkan kita untuk mencetak kedua sisi kertas secara otomatis yang berarti juga makin menghemat pengeluaran kita.

2. Mudah digunakan

Tidak seperti printer lain yang membuat kita sedikit riweuh dengan tempat pengisi tinta nya, printer ini justru memudahkan kita dengan lokasi nya yang terletak persis dibagian depan. Kemudahan pun terlihat dari warna dari tank tintanya yang transparant sehingga makin memudahkan kita melihat isi dari botol tinta itu.

Selain itu, printer ini juga memiliki kemampuan untuk scan, copy, dan fax untuk banyak halaman sekaligus tanpa harus memasukkan satu per satu dengan automatic document feeder (ADF) yang dapat memuat hingga 50 lembar.

Fitur ini jelas akan memudahkan aktivitas belajarku nanti, ya seperti kita ketahui bersama, ‘belajar’ ala mahasiswa tuh kan ga akan jauh jauh dari printer dan laptop...

3. Produktivitas tinggi

Produktivitas tinggi dari printer ini tuh terbukti dari kecepatan mencetaknya yang mencapai hingga 22/20 ipm (mono/warna) dengan mode standar dan akan meningkatkan produktivitasnya lagi dengan fast mode yang memiliki kecepatan mencetak hingga 35/27 ppm (mono/warna)

Dengan kecepatan yang begitu menakjubkan itu, nantinya aku hanya perlu waktu 5,5 detik saja untuk mencetak satu lembar halaman hitam putih dan hanya menghabiskan waktu 6 detik untuk satu lembar halaman warna. Ini jelas akan lebih efisien bukan...?

Sumber : cerita-astri.net


Duh... makin jatuh hati lah aku dengan Printer InkTank A3 Brother ini... tak perlu berlama lama lagi, aku pun langsung mencatat printer Inkjet ini kedalam list peralatan sekolahku nanti, insya Allah kalau tabunganku sudah mencukupi aku akan langsung membelinya... Bismillah semoga bisa segera terbeli dan semua nya dapat berjalan lancar... Aamiin...