18/01/26

Indonesia Humanitarian Summit, Mengubah Air mata Menjadi Martabat dengan Pemberdayaan



Pernah terpikirkan nggak sih, di dunia yang lagi nggak baik-baik saja ini, kira kira tangan kecil kita tuh masih mampu mengubah nasib seseorang nggak ya? Jujur, belakangan ini kepalaku penuh dengan pertanyaan ini. Perkara rejeki yang insya Allah akan selalu ada akunjelas paham betul tap entah kenaoa Ada rasa ketar-ketir tanpa alasan jelas yang sering datang tiba-tiba. Alhamdulillah Jawabannya pun sudah kutemukan di acara yang penuh dengan energi harapan beberapa hari yang lalu, Indonesia Humanitarian Summit.

Walau sebelumnya aku harus sedikit berkejar-kejaran dengan waktu untuk menuju lokasi acara ini, langkah kakiku tetap terasa ringan buat ketemu langsung dengan para pegiat kemanusiaan di Indonesia Humanitarian Summit. Yup, aku begitu antusias datang langsung ke acara ini, karena memang jauh sebelumnya aku sudah tau berbagai program pemberdayaan Dompet Dhuafa yang keren-keren itu. Makanya begitu menerima undangan untuk hadir langsung di acara ini aku jelas nggak bisa menutupi rasa antusias nya.

Sebelum masuk ke sesi diskusi, aku memutuskan untuk "menjelajah" area luar ballroom terlebih dahulu. Suasananya seperti festival kemanusiaan yang sangat hidup! Langkahku terhenti di booth Rumah Sakit Pemberdayaan Dompet Dhuafa yang menawarkan pemeriksaan mata gratis. Aku pun ikut mengantre. Sambil diperiksa oleh tenaga medis yang sangat profesional, aku baru menyadari bahwa inilah bentuk nyata dari transparansi pengelolaan dana publik. Pelayanan kesehatan berkualitas ternyata bisa dinikmati siapa saja tanpa sekat biaya.


Tak jauh dari situ, aku dimanjakan oleh deretan produk UMKM binaan. Aku sempat melihat kerajinan tangan yang sangat estetik. Berbincang dengan para pelaku UMKM ini membuatku merinding, banyak dari mereka yang dulunya kesulitan modal dan akses, kini bisa berdiri tegak dengan usaha yang mandiri dan punya daya saing.


Indonesia Humanitarian Summit, EMPOWERMENT TO THE NEXT LEVEL

Bertajuk “EMPOWERMENT TO THE NEXT LEVEL”, Materi dan berbagai sambutan yang  dipaparkan para narasumber di atas panggung, membuatku akhirnya tersadar kalau faktanya kita lagi ada di persimpangan besar. Di luar sana, dunia sedang dihantam badai, semua dalam keadaan tidak baik-baik saja, mulai dari inflasi yang mencekik hingga gejolak geopolitik. Indonesia pun jelas tak luput dari tantangan ini. Mungkin memang bukan perang secara militer tapi gelombang PHK di sektor manufaktur dan digital membuat banyak kelompok menengah kini harus berjuang keras agar tidak terperosok ke jurang kemiskinan.



Angka di atas data mungkin bicara penurunan kemiskinan hingga 8,47% per Maret 2025, tapi sayangnya realita di lapangan berkata lain. Nyatanya walau dikatakan turun, kita semua jelas masih bergelut mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Di sinilah hatiku tersentuh, ternyata acara ini bukan sekadar seremoni, tapi malah jadi satu komitmen untuk membawa solusi yang benar-benar nyata bagi 23,85 juta jiwa saudara kita yang masih berjuang di garis kemiskinan.

Satu hal yang membuatku sangat optimis adalah saat perwakilan Dompet Dhuafa mulai memaparkan tentang Indonesia Philanthropy Report 2025. Ternyata, meski ekonomi sedang goyah, solidaritas masyarakat Indonesia justru melonjak luar biasa! Laporan ini menunjukkan tren kenaikan penghimpunan dana yang signifikan dibanding tahun sebelumnya. Dompet Dhuafa sendiri membuktikan kepercayaan publik itu dengan meraih berbagai penghargaan bergengsi, seperti SDG’s Action Award dari Bappenas hingga Top Brand Award kategori Zakat. Ini bukti bahwa di masa sulit, sifat kedermawanan kita justru semakin menguat. Kagum sih sama sifat kedermawanan turun temurun ala bangsa Indonesia ini


Belajar Mandiri dari Sang Maestro

Memasuki sesi kedua, suasana ballroom semakin panas dengan diskusi bertema wirausaha. Di atas panggung, hadir dua sosok ikonik: Sandiaga Uno, seorang entrepreneur kawakan, dan Sally Giovanny, pemilik Batik Trusmi.

Sandiaga Uno menekankan bahwa kewirausahaan sosial adalah "sekoci" terbaik di tengah ketidakpastian global. Beliau berbagi cerita bagaimana inovasi dan adaptasi digital bisa menyelamatkan usaha kecil. Sementara itu, Sally Giovanny membawa perspektif yang sangat menyentuh tentang bagaimana ia membina para perajin lokal agar memiliki keahlian global. Keduanya sepakat: untuk naik kelas, kita tidak boleh hanya memberi "ikan", tapi harus membangun ekosistem yang kuat agar dhuafa bisa bertransformasi menjadi mandiri dan bermartabat.

Sepulang dari acara, ada satu pesan yang terus terngiang: bagi bangsa kita, terlibat dalam isu kemanusiaan adalah amanat dasar negara. Kolaborasi antara Dompet Dhuafa dan Nusantara TV mempertegas visi bahwa filantropi harus naik level menjadi pemberdayaan yang terukur, profesional, dan berkelanjutan.

Indonesia Humanitarian Summit 2025 telah membuka mataku lebar-lebar. Bahwa di tengah gelapnya tantangan ekonomi, selalu ada cahaya yang menyala jika kita mau bergerak bersama. Memberdayakan orang lain bukan hanya tentang mengubah hidup mereka, tapi tentang menaikkan level kemanusiaan kita sendiri. Mari melompat lebih tinggi untuk sesama!




0 comments:

Posting Komentar