23/10/19

Styrofoam berbahaya untuk makanan…? Benarkah…?





Belakangan ini banyak masyarakat Indonesia yang mulai peduli terhadap lingkungan sekitar. Sebuah perilaku baru yang patut disyukuri serta diapresiasi dengan baik. Aku pun mulai meningkatkan perhatianku pada lingkungan dengan berbagai cara simple yang mungkin akan berdampak nyata pada kelestarian lingkungan, mulai dari hemat listrik hingga meminimalisir penggunaan kantong plastik. Kebiasaan ini terus aku lakukan sampai pada beberapa waktu lalu aku mendapat pencerahan dari seorang teman blogger yang baru saja menyelesaikan akademi blogger terkait lingkungan di Bali.

Menurutnya, plastik dan barang lain sejenisnya itu adalah teknologi modern yang tidak akan bisa kita tolak penggunaannya 100%. Yup biar bagaimanapun harus diakui kalau semua itu telah mempermudah kehidupan kita semua, jadi tidak bisa dijadikan kambing hitam dalam masalah lingkungan yang terjadi begitu saja. Bukan plastik dan barang sejenisnya itu yang salah, melainkan perilaku kita dalam menanganinya, begitu kurang lebih pendapat beliau yang berhasil aku rangkum.



Dalam hati aku membenarkan pendapatnya tersebut, akan amat sulit jika kita semua harus kembali ke jaman dimana barang-barang yang ‘katanya’ merusak lingkungan itu belum diproduksi. Jadi, bukankah akan lebih baik kalau kita sama-sama mencari solusi penanganan sampah nya, alih alih terus menyalahkan barang tersebut begitu saja ?!

Rasa penasaran terhadap masalah ini, membuatku semakin antusias ketika mendapat undangan sharing bersama narasumber yang kompeten di bidang ini tentang fakta singkat penggunaan polistiren yang bersentuhan dengan makanan. Bukan sebuah topik yang langsung menyasar rasa penasaranku di atas, namun tetap masih berkaitan satu sama lain.  Kurang lebih sama dengan plastik, Styrofoam yang terbuat dari polistiren pun sering dijadikan kambing hitam terkait kerusakan lingkungan yang terjadi belakangan ini, lalu benarkah polistiren/Styrofoam ini berbahaya…? Nah jawaban pertanyaan inilah yang berhasil aku dapatkan dari acara sharing tersebut.



Ada sedikit kesalahpahaman yang terjadi di masyarakat terkait penggunaan Styrofoam pada makanan. Hingga saat ini masih ada saja yang menganggap penggunaan Styrofoam pada makanan ini berbahaya dan dapat merusak lingkungan. Padahal kenyataannya Styrofoam terbukti aman untuk digunakan langsung sebagai tempat makan siap saji. Tak tanggung-tanggung, keamanan dari styrofoam ini bahkan disematkan pada keterangan pers BPOM pada tahun 2009 tentang kemasan makanan Styrofoam nomor KH.00.02.1.55.2888 tanggal 14 Juli 2009.

Styrofoam dianggap berbahaya karena ‘katanya’ terbuat dari stiren yang memang terbukti tidak baik bagi kesehatan manusia, namun faktanya, stryfoam terbuat dari polistiren atau turunan dari stiren yang terbukti aman untuk digunakan sebagai kemasan penyajian makanan. Keamanan nya bersentuhan langsung dengan makanan ini bahkan dapat dilihat dari logo bergambar sendok garpu yang berarti food grade atau aman untuk makanan pada bagian bawah Styrofoam.



Masalah lain yang tak kalah menarik, Styrofoam pun dianggap sebagai perusak lingkungan karena sampah yang dihasilkan dari penggunaannya. Dalam hal ini pun ternyata ada kesalahpahaman yang terjadi. Sampah Styrofoam yang menggunung memang ‘terlihat’ merusak lingkungan namun tidak akan terjadi apa-apa jika kita semua sadar tentang bagaimana proses pemilahan serta pengolahan sampah. Ini berlaku untuk semua jenis sampah, bukan hanya Styrofoam saja pastinya.

Sebenarnya, jika sampah Styrofoam ini sudah dipilah dan dipisahkan dari sampah lainnya, Styrofoam bisa didaur ulang kembali. Tanda daur ulangnya pun nyata terlihat pada bagian bawah Styrofoam, berupa panah berbentuk segitiga yang berarti daur ulang dan angka 6 di dalamnya yang berarti polistiren.



Di belahan dunia lain, proses daur ulang polistiren/Styrofoam ini bahkan sudah bisa diakses hingga ke keluarga, contohnya saja di California, 20% dari seluruh penduduknya telah memiliki akses daur ulang jajanan makanan pinggir jalan yang menggunakan kemasan polistiren busa nomor 6. Indonesia mungkin belum bisa seperti itu, tapi siapa yang tau ke depannya akan seperti apa…

Aku sendiri masih membiasakan diri untuk membawa tempat makan dari rumah, namun juga tidak lantas jadi antipasti terhadap polistiren/Styrofoam ini. Dalam keadaan darurat, seperti saat tidak membawa kotak makan sendiri, aku tidak masalah menggunakan Styrofoam sebagai kemasannya, karena memang terbukti aman untuk digunakan. Kalian sendiri bagaimana teman…? Masih ragu memakai Styrofoam sebagai tempat makan…? Atau sudah berubah pandangan terkait Styrofoam ini…? Share yuk di kolom komentar…




2 komentar:

  1. Hooooo, berarti memang sebenernya lebih baik stereofom ya -.-

    saya kalau bungkus, biasanya kertas minyak itu sih ._.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus