05/11/19

Drama di Balik Layar Keberangkatanku ke Jepang, Semudah itu kah...?




Setiap ucapan yang keluar dari mulut kita itu adalah doa, rasanya ungkapan ini benar-benar pas untuk menggambarkan ceritaku kali ini, cerita tentang behind the scene keberangkatanku ke Jepang beberapa waktu yang lalu.  Ya, bisa menginjakkan kaki di negri sakura jepang memang masih terasa seperti mimpi bagiku. Jauh sebelum keberangkatan ke Jepang, aku memang memimpikan untuk bisa liburan ke sana, namun mengingat besaran biaya yang harus dikeluarkan untuk mewujudkannya, mimpi tersebut pun terpaksa harus terkubur begitu saja.

Bisa dikatakan semua ini berawal dari candaan sahabatku tercinta, Novitania, yang ternyata dianggap sebagai doa yang tulus oleh-Nya. Kurang lebih satu bulan sebelum pengumuman soal keberangkatanku tersebut, aku dan dia bercanda di event Jak-Japan Matsuri yang merupakan pameran kebudayaan Jepang dan Jakarta. ‘ iya, sekarang mah kita liat bunga sakura nya di sini aja dulu, tahun depan kita liat bunga sakura langsung di Negara asalnya’, begitu isi candaannya yang hanya aku tanggapi dengan tawa.



Toyota User Experience & Blog Competition, pintu ajaib ku menuju Jepang


Tak sampai satu bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 26 September 2019 lalu, aku dan Novitania berkesempatan untuk mengikuti Toyota User Experience yang diselenggarakan oleh Tempo.co dan Toyota. Dalam acara tersebut, kami diajak untuk merasakan sensasi berkendara dengan menggunakan Toyota New Veloz untuk kemudian dijadikan bahan tulisan yang akan dikompetisikan dengan hadiah trip ke jepang.

Jujur, ini merupakan lomba blog tercepat dan terunik yang pernah aku ikuti. Tidak seperti lomba blog lain yang biasanya menjadikan kualitas tulisan sebagai poin penilaian utama, pemenang lomba blog ini justru dilihat dari banyaknya jumlah share tulisan. Jadi jangan heran jika akhirnya banyak yang ‘menyerah’ duluan, seperti aku dan novitania. Ya, kami benar-benar sudah angkat tangan duluan karena memang merasa tidak akan menang jika penilaiannya seperti itu.



Saat itu, kami hanya diberi waktu tiga hari untuk menulis dan tiga hari kemudian untuk membagikan link tulisan di tempo.co tersebut pada sanak saudara. Benar-benar waktu yang begitu singkat untuk ukuran sebuah blog competition bukan…?!  Namun untuk menjaga komitmen, meski ‘agak berat’, aku tetap menyelesaikan tulisan bertajuk 5 Alasan memilih Toyota new veloz sebagai mobil keluarga tersebut.

Setelah memposting tulisan itu di blog masing-masing, kami diwajibkan mengirim dokumen tulisan tersebut dalam bentuk word untuk nantinya dikurasi oleh tim editing tempo agar dapat tayang di laman tempo.co. Nah link tulisan kami di tempo.co tersebut lah yang bisa kami share ke teman dan sanak saudara. Laman tempo.co memiliki tools khusus untuk menghitung jumlah share yang dijadikan penilaian utama blog competition ini, begitu alasannya.

Begitu mendapatkan link tulisan, aku mulai meminta bantuan pada teman terdekat dan beberapa grup whatsapp untuk kembali menyebarkannya. Jujur, saat itu aku hanya ingin memberikan yang terbaik pada Toyota dan Tempo.co supaya tidak sampai kosong banget jumlah share nya. Seingatku, tulisan tersebut hanya dibagikan di grup whatsapp GenPi dan sekolah adikku saja, sisanya aku japri ke beberapa orang terdekat, tentu dengan mandatory untuk membagikannya kembali pada yang lain.

Sadar diri tidak maksimal membagikan link tulisan tersebut, aku pun tidak berharap banyak pada pengumuman lomba itu. Bahkan saat Kak Adimas Triyono Pujadi, PIC lomba blog ini mengumumkan kalau penilaian lomba akan ditutup pada tanggal 7 Oktober 2019 pukul 19.00 WIB, aku sama sekali tidak melihat jumlah share tulisanku lagi.



Tepat pukul 21.16 WIB, namaku disebut sebagai pemenang lomba blog ini. Benar-benar seperti mimpi rasanya. Alhamdulillah… Alhamdulillah… Alhamdulillah… hanya itu kata yang bisa aku ucapkan saat itu. Dan bisa ditebak, malam itu aku tidak bisa tidur sampai pagi, hehehe…

Paspor, Pengantar atau penghambat…?


Mimpi indah berangkat ke Jepang hampir buyar tanpa jejak saat pagi harinya aku sadar kalau aku belum memiliki paspor yang merupakan syarat utama bagi WNI yang ingin ke luar negri. Bagaimana mau berangkat ke Jepang jika paspor saja tidak punya…?! Hari-hariku berikutnya pun dihabiskan dengan proses pembuatan paspor yang begitu panjang bagiku.

Tak salah jika ada yang mengatakan pembuatan paspor itu hanya memerlukan waktu 4-5 hari saja, namun kenyataannya tidak semudah itu juga. Besarnya minat masyarakat dalam membuat paspor yang melebihi kuota, mau tidak mau membuat antrian semakin panjang dan aku pun agak kesulitan untuk mendapatkan jadwal foto dan wawancara sebagai syarat pembuatan paspor.

Alhamdulillah, lagi-lagi berkat bantuan sahabatku, Novitania, hanya berselang satu hari kemudian aku berhasil mendapat jadwal foto dan wawancara di Kantor Imigrasi Bekasi. Ini bisa dibilang keajaiban bagiku, di saat orang lain harus menunggu hingga berminggu-minggu untuk bisa mendapat nomor antrian tersebut, aku hanya membutuhkan waktu satu hari saja.

Sayangnya mendapat nomor antrian pembuatan paspor itu tak lantas menyelesaikan masalahku begitu saja. Pihak tempo.co terus ‘menagih’ paspor ku hampir setiap hari. Meski sadar kalau hal ini adalah lumrah karena paspor ku itu memang dibutuhkan untuk mengurus visa dan pembelian tiket, hal ini tetap menjadi tekanan tersendiri bagiku. Gegana atau gelisah galau merana pun mulai mewarnai hari-hariku selanjutnya

Setelah menghitung waktu yang dibutuhkan untuk mengurus visa, akhirnya pihak Tempo.co memberikan keputusan, jika aku tidak bisa memberikan paspor tersebut pada tanggal 16 Oktober 2019 maka keberangkatanku ke Jepang terpaksa harus dibatalkan. Lemas rasanya aku membaca chat whatsapp tersebut karena pasporku dijadwalkan baru selesai pada tanggal 17 Oktober 2019. Mengikhlaskan sesuatu yang kita impikan ternyata memang tidak mudah, tanpa terasa air mata menetes begitu saja. Aku coba ikhlas tapi benar-benar sulit rasanya.

‘ Udah serahin aja ama Allah nat, kalau kata Dia kamu jalan, insya Allah tetap jalan kok, tapi kalau kata Allah ga boleh jalan, ya udah mungkin itu yang terbaik, nanti kita ke Jepang bareng aja’ kata-kata soulmate-ku ini lumayan membantuku untuk mulai memasrahkan diri pada-Nya, membuat hati ini mulai mendekati kata ikhlas jika harus melepas semuanya.

Meski kemungkinan pasporku telah selesai begitu kecil, pada tanggal 16 Oktober 2019 aku  tetap melangkahkan kaki ke Kantor Imigrasi Bekasi. Kebetulan saat itu Kantor Imigrasi Bekasi sedang mengalami gangguan system sehingga banyak masyarakat yang tidak mendapat nomor antrian dan terpaksa harus menunggu tanpa kepastian, aku salah satunya. 2 jam lebih aku menunggu kabar soal papsorku itu, dan Alhamdulillah keajaiban kembali menghampiriku, tepat 10 menit sebelum jam 12 siang, namaku pun dipanggil untuk mengambil paspor yang telah selesai itu.



Paspor selesai. Lalu apakah behind the scene keberangkatanku ke Jepang ini sudah selesai…? Ternyata belum selesai sodara-sodara, masih ada sederet drama yang mengiringinya, hehehe...

Visa Jepang, akhir dari behind the scene keberangkatan ku ke Jepang


Begitu paspor sudah di tangan, aku pun tak membuang waktu lagi. Jari yang terasa semakin gemetar ini langsung menghubungi pihak tempo via whatsapp dan langsung menyepakati untuk bertemu di Japan Visa Application Center. Kebetulan aku tiba lebih awal di sana, tepat pukul 14.00 aku mengambil nomor antrian pembuatan Visa, sementara pihak tempo masih mengurus pembelian tiket pesawat dan hotel serta surat-surat lain yang dibutuhkan.

Demi keefisienan waktu, tiket pesawat, hotel dan lain sebagainya dikirim via whatsapp untuk kemudian aku print di lokasi. Saranku sih jika kalian tidak dalam keadaan darurat sepertiku ini, lebih baik print semua berkasnya terlebih dahulu sebelum ke Japan Visa Application Center ini, karena biaya yang harus kalian keluarkan di sini lumayan mahal, hehehe…

Satu jam menunggu nomor antrian ku tak kunjung dipanggil, aku masih bersabar. Jam-jam berikutnya pun berlalu begitu saja, hingga sekitar 15 menit sebelum jam 5 sore (waktu tutupnya Japan Visa Application Center) Pihak tempo mengkonfirmasi pada CS di sana, kenapa nomor antrianku tak kunjung muncul dilayar pemanggil. Deg-degan lagi pastinya, karena kalau Visa tidak diurus pada hari itu maka keberangkatanku ke Jepang pun terancam BATAL.

Ternyata ada gangguan system di Japan Visa Application Center yang menyebabkan nomor antrianku tidak dipanggil-panggil. Bayangkan aku menunggu hampir tiga jam tanpa kepastian di sana. Alhamdulillah, begitu mengajukan complain, Visa ku pun langsung diproses hari itu juga.

Waktu pengurusan visa kurang lebih sekitar 5-6 hari kerja, oleh karena itu pihak tempo terpaksa membelikanku tiket pesawat untuk tanggal 24 Oktober 2019 dengan estimasi pengambilan visa pada tanggal 22-23 Oktober 2019. Harus diakui waktunya memang terbilang mepet banget. O iya estimasi ini berlaku jika dalam proses pengurusan Visa nya tidak mengalami kendala apapun ya, jadi bisa dikatakan meski Visa pun telah diurus, aku masih belum mendapat kepastian soal keberangkatanku ke Jepang.

Malam setelah drama pengurusan visa tersebut selesai, aku benar-benar bisa tidur dengan nyenyak, dalam hati aku kembali pasrah pada-Nya, semoga tidak ada hambatan apapun lagi. Sayangnya, Allah masih menguji keteguhan hatiku, keesokan harinya aku mendapat telpon dari Kedutaan Jepang terkait proses pembuatan Visa ku itu. Menurut mereka ada form yang belum aku isi pada saat mengajukan Visa di Japan Visa Application Center, dan aku diharuskan mengisinya kembali di Kedutaan Jepang.

Rasa khawatir kalau hal ini akan menghambat proses Visa  jelas menghantuiku, oleh karena itu aku pun tegas menanyakan pada petugas di Kedutaan Jepang tersebut soal kepastian waktu pengambilan Visa. Alhamdulillah menurut mereka tidak akan ada pengunduran jadwal pengambilan, jadi tetap bisa diambil pada tanggal 22-23 Oktober 2019.

Pada tanggal 21 Oktober 2019 sore hari aku mendapat email dari kedutaan jepang yang menyatakan kalau Visa ku sudah bisa diambil di Japan Visa Application Center. Alhamdulillah, plong rasanya… keesokan harinya aku ditemani Novitania langsung menuju Japan Visa Application Center untuk mengambil Visa tersebut, lebih cepat lebih baik begitu pikir kami waktu itu. Dan apa yang terjadi sodara-sodara…? Japan Visa Application Centernya TUTUP karena di Jepang sana sedang ada penobatan kaisar. Ada-ada aja kaaannn…?! Kami berdua Cuma bisa tertawa bersama melihatnya…

Drama Visa ini pun berakhir tepat di tanggal 23 Oktober 2019, atau satu hari sebelum tanggal keberangkatanku ke Jepang. Jadi aku baru menerima kepastian keberangkatanku itu  persis di H-1, cukup wooow bagiku. Akhirnya drama behind the scene ini selesai setelah hamper satu bulan terombang ambing tanpa kepastian, Alhamdulillah tanggal 24 Oktober 2019 aku memulai petualanganku di Jepang, Negeri yang dulu hanya ada dalam mimpiku.

Cerita soal keseruanku selama di Jepang insya Allah juga akan aku tulis di blog ini, nantikan ya…

9 komentar:

  1. Aku menunggu cerita selanjutnya di Jepang yaaa cyiiinnn, thank you so much oleh2nya kece2 semua. ������

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siaapppp... Cerita di Jepang nya masih on process cinta, btw alhamdulillah kalau suka ama oleh-oleh nya, hehehe

      Hapus
  2. Natara ... ku pikir jadinya e-passport tapi ini paspor biasa? Eh atau gimana sih?
    Alhamdulillah Ya Allah, jadi juga sampai ke Jepang :)
    Keluargamu pasti bangga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kaka helena akhirnya paspor biasa soale blanko epaspor nya abis, hehehe

      Hapus
  3. Fiuhhh yang baca aja berasa tegangnya mak, tapi alhamdulillah yaa kerja keras membawa hasil. Pengalaman yang luar biasa.. bravo!

    BalasHapus
  4. Gak apa apa . Yang penting ini pertama mudah mudahan Aja lanjut.

    Anak gadis sering jalan jalan

    BalasHapus
  5. �� nangis terharu aku bacanya mbak. MasyaALLAH tabarakallah mbaaaak ikut senang banget aku bacanya. Kuasa ALLAH emang gak ada yang bisa ditelaah dengan logika manusia. Semoga selanjutnya diberikan restuNya ya apapun itu yang dilakukan. InsyaALLAH berkah. Sehat selalu mbak Natara.

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah ya mbak natara begitulah hidup, apa yang telah ditakdirkan-Nya untuk kita tak akan lepas dari genggaman kita InsyaAlloh.. Kadang yang mefet dan bikin deg2an itu bikin happy dan makin tambah syukur kita kepada-Nya :)

    BalasHapus
  7. masih rezeki berarti :). aku ikut bacanya deg deg an :D. ditunggu cerita jepangnya mba.. ini negara yg slalu bikin aku kepengen balik tiap tahun, saking cintanya :D

    BalasHapus