31/01/20

Bagaimana Antisipasi Indonesia di Lahan Gambut 2020 ? Ini jawabannya...

 


Salah satu kenangan terburuk yang terjadi di tahun 2019 lalu adalah kebakaran lahan gambut yang tidak bisa terkontrol dengan baik hingga menyebabkan kabut asap yang berbahaya. Aku sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan masyarakat di daerah terdampak kabut asap tersebut. Menghirup asap dari hasil pembakaran sampah yang tidak begitu besar saja sudah cukup untuk membuatku merasa sesak napas, bagaimana dengan mereka semua yang kesehariannya harus hidup dalam kepungan asap…?

Ini jelas tidak bisa dibiarkan, harus ada langkah nyata dalam mencegahnya agar tidak terulang kembali pada musim kemarau nanti. Oleh karena itu, aku begitu antusias ketika mendapat undangan untuk ngobrol bareng tempo dengan tajuk ‘tahun 2019 tahun terpanas kedua sepanjang sejarah : Bagaimana antisipasi Indonesia di Lahan Gambut 2020?’. Diskusi ini terbilang cukup penting bagiku dan kita semua, alih-alih menyalahkan kinerja pemerintah, tentu akan lebih baik jika kita mengambil langkah nyata, sekecil apapun langkah tersebut.




For your information, lahan gambut merupakan lahan basah yang terbentuk dari timbunan materi organic yang berasal dari sisa-sisa pohon, rerumputan, dan jasad hewan yang membusuk. Timbunan tersebut terus menumpuk selama ribuan tahun hingga membentuk endapan yang tebal. Di Indonesia sendiri kedalaman lahan gambutnya bisa mencapai hingga 30 meter atau setara dengan gedung bertingkat 7 lantai.

Lahan gambut Indonesia yang begitu besar, luas, dan memiliki kedalaman fantastis ini tidak semestinya dijadikan kambing hitam atas kabut asap yang berbahaya itu, karena jika dikelola dengan baik, lahan gambut tersebut justru dapat bermanfaat bagi kita semua. Sifat lahan gambut yang basah itu bisa dijadikan ‘tabungan’ penyimpanan air di musim kemarau, begitu juga sebaliknya jika terjadi pengeringan pada lahan gambut maka potensi kebakarannya pun akan meningkat dan sulit dikendalikan, karena sifat basahnya berubah menjadi begitu kering layaknya kayu kering.




Ketika lahan gambut tersebut kering, api kecil atau bahkan rokok saja bisa menimbulkan kebakaran hebat. Api tersebut bisa menyebar hingga lapisan gambut dalam. Walaupun api di permukaan sudah ‘terlihat’ padam, nyatanya di bagian dalam gambut tersebut, api nya masih terus menyala, bertahan lama dan menyebar ke area lain serta menimbulkan kabut asap yang berbahaya bagi kita semua.

Selama ini aku pikir, kebakaran lahan gambut Indonesia yang hampir terjadi setiap tahunnya itu disebabkan oleh musim kemarau saja, tapi dalam acara ngobrol tempo beberapa waktu lalu, Prof. Bambang Hero Saharjo, guru besar kehutanan IPB sempat menyinggung, sedikit mustahil dua daun kering bisa terbakar hanya karena pancaran sinar matahari, pasti ada sebab lain yang memicu kebakaran tersebut. Jika diibaratkan, musim kemarau adalah ‘bensin’ yang tak akan terbakar jika tidak bersinggungan dengan api.




Lebih dari 99% penyebab kebakaran lahan gambut adalah karena ulah manusia sendiri, bahkan Ibu Theti N. A seorang petani di Kalimantan Tengah yang juga hadir dalam acara tersebut pun membenarkan kalau masyarakat di daerahnya masih banyak yang percaya bahwa membakar lahan gambut untuk membuka perkebunan adalah cara terbaik mereka. Alasannya karena dapat membuat lahan tersebut jadi lebih subur dan meminimalisir pengeluaran biaya pembukaan lahan.

Alhamdulillah pelan tapi pasti pemerintah mulai memberikan edukasi pada masyarakat sekitar untuk beralih ke cara pembukaan lahan gambut yang lebih aman tanpa melakukan pembakaran. Edukasi ini memang tidak serta merta mengubah pandangan masyarakat yang bisa dibilang sudah mendarah daging itu, tapi paling tidak saat ini sudah ada kelompok masyarakat yang menyadari kalau pembakaran lahan gambut untuk membuka lahan perkebunan dapat membahayakan kita semua, karena bisa menimbulkan kabut asap.




Tak hanya edukasi itu saja, dari hasil rangkuman ku saat mengikuti jalannya acara ngobrol bareng tempo tersebut, nantinya pemerintah akan memanfaatkan hujan buatan untuk pencegahan kebakaran lahan gambut di musim kemarau nanti. Noted, pencegahan bukan penanggulangan. Kalau sebelumnya, hujan buatan itu digunakan untuk memadamkan api dalam kebakaran lahan gambut, nah di tahun 2020 ini,  sebelum datangnya musim kemarau yang menyebabkan lahan gambut menjadi kering dan mudah terbakar, pemerintah akan melakukan hujan buatan untuk membasahi lahan gambut tersebut.

Nah, sekarang aku mau ajak kalian semua untuk mengambil langkah nyata pencegahan kebakaran lahan gambut di musim kemarau nanti. Di sini aku sama sekali tidak mengajak kalian bersusah payah turun langsung ke lahan gambut, kalian cukup men-share tulisan ini saja di media social yang dimiliki. Siapa tau di luar sana ada masyarakat yang jadi teredukasi setelah membaca artikel yang kalian share ini. Sekecil apapun langkah nyata kalian, akan berguna bagi masa depan Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar