15/10/21

Wisata Kuliner Untuk Mitigasi Perubahan Iklim, Emang Bisa?

 


Rasanya ada kepuasan tersendiri tiap kali bisa mencoba menu masakan baru di suatu tempat. Tak jarang untuk memuaskan rasa penasaran, aku memesan berbagai menu sekaligus tanpa menghiraukan apakah lambung ini kuat untuk menampungnya atau tidak. Mumpung sedang travelling ke daerah itu, pokoknya aku harus mencicipi dulu semua kuliner khas nya, begitu pikirku saat itu.

Pernah suatu ketika aku sampai memesan menu yang memenuhi satu meja makan, padahal hanya berdua dengan sahabatku saja. Alhasil bisa ditebak, ada banyak makanan sisa yang tidak sanggup kami habiskan. Tindakan ku tersebut tak sepenuhnya salah, karena toh aku membayar semua menu yang kupesan itu. Memang tetap ada sedikit rasa penyesalan yang terselip di hati, namun tertutupi dengan rasa senang karena bisa mencoba menu khas daerah tersebut.

 

Makanan sisa, Abaikan atau Selesaikan?

 

Selipan-selipan penyesalan tersebut terus kuabaikan begitu saja sampai akhirnya aku mengalami pengalaman berharga yang berhasil mengubah pemikiranku soal wisata kuliner. Tepatnya ketika aku ditunjuk sebagai salah satu panitia yang bertugas mengawasi makanan di acara resepsi pernikahan saudara. Miris rasanya melihat satu karung besar makanan sisa dari piring kotor yang harus terbuang sia-sia begitu saja.  



Kalau hanya dari piring makan yang kita gunakan saja, makanan sisa memang akan terlihat sedikit. Namun ternyata jika banyak yang melakukan hal serupa, tumpukan makanan sisa tersebut bisa menjadi masalah yang serius. Seperti yang kualami saat menjadi panitia resepsi tersebut, aku benar-benar tak menyangka kalau makanan sisa dari piring kotor para tamu bisa sampai satu karung besar.

Meski miris, awalnya aku sempat tidak mempermasalahkan hal ini karena toh limbah makanan tersebut sebenernya masuk dalam limbah organic yang mudah terurai secara alami tanpa perlu campur tangan manusia, tapi tetap saja, jika jumlah nya terlalu besar akan menjadi masalah.

Faktanya, berdasarkan kutipan yang aku dapat dari World Resources Institute, jika limbah makanan diibaratkan sebagai sebuah negara maka negara itu akan menjadi penghasil emisi gas rumah kaca terbesar ketiga setelah China dan AS. Wow, pernyataan ini benar-benar mengejutkanku. Aku tak menyangka kalau kebiasaan burukku yang tak menghiraukan makanan sisa saat berwisata kuliner bisa berdampak besar bagi perubahan iklim dunia.


Mengetahui hal tersebut, aku pun mulai mengubah prinsipku saat akan berwisata kuliner. Hobi ini akan tetap kujalani, namun aku bersumpah akan memesan makanan sesuai porsi dan menghabiskannya saat berwisata kuliner. Tak hanya menghabiskan makanan saja, sebisa mungkin aku pun akan memilih restoran atau rumah makan dengan lokasi yang bisa ditempuh dengan jalan kaki serta membawa tempat makan sendiri saat akan take away makanan yang kubeli.

Ini akan menjadi langkah sederhana yang kulakukan sebagai bagian dari mitigasi perubahan iklim untuk mengurangi risiko terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca. Untuk saat ini mungkin ya hanya langkah sederhana ini saja, namun aku pun sudah menyiapkan hal lain yang insya Allah akan kulakukan di masa depan, yaitu membuka usaha kuliner sendiri dengan konsep ramah lingkungan. Supaya tidak lupa, aku tulis juga di sini yaa.

 

Konsep Usaha Kuliner Ramah Lingkungan ala Aku

 

Hobi berwisata kuliner, akhirnya membuatku bercita-cita membuka usaha kuliner sendiri di kampong halaman. Bismillah, semoga suatu saat nanti ada rejeki untuk membuka usaha kuliner ku sendiri dengan konsep ramah lingkungan. Konsep usaha kuliner ramah lingkungan ala aku ini sebenarnya tidak susah kok, hanya butuh beberapa penyesuaian saja, diantaranya sebagai berikut,

 

Membuat ukuran porsi makan yang berbeda-beda

Jujur, aku agak kesulitan saat menyesuaikan hobiku berkuliner ria dengan porsi yang ada di setiap restoran. Seperti ceritaku di awal, ada kalanya aku memang hanya ingin mencicipi menu khas suatu daerah saja. Artinya yang aku butuhkan hanya sedikit porsi dari setiap menu. Sayangnya kebanyakan dari restoran yang ada hanya menyediakan full menu untuk porsi standar.

Nah di konsep usaha kuliner ramah lingkungan ala aku ini, aka nada beberapa porsi makanan untuk tiap menu nya. Porsi icip untuk takaran menu yang paling sedikit, porsi normal, serta porsi besar. Dengan adanya beberapa takaran porsi seperti ini, tentu akan memudahkan pelanggan yang hanya ingin mencicipinya saja. Makanan sisa pun bisa diminimalisir deh.

 


Mengganti kemasan dengan kemasan ramah lingkungan

Sekarang sudah banyak yang memproduksi kemasan ramah lingkungan, seperti kantong plastik yang terbuat dari singkong, misalnya. Beberapa memang masih membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tapi siapa tau nanti saat aku membuka usaha kuliner, kemasan ramah lingkungan seperti ini akan jauh lebih murah.

 

Diskon khusus untuk pelanggan yang membawa tempat makan sendiri

Ide ini sebenarnya aku adaptasi dari salah satu gerai kopi kekinian langgananku. Menurutku, memberi diskon khusus untuk pelanggan yang membawa tempat makannya sendiri saat take away adalah hal yang cerdas. Nantinya jika sudah terbiasa maka, pelanggan akan dengan senang hati melakukannya.

 

Memanfaatkan kembali limbah yang dihasilkan

Meski sudah menerapkan sistem porsi, bukan tidak mungkin tetap akan ada limbah makanan dari usaha kuliner yang dijalankan. Jadi sebisa mungkin manfaatkan kembali limbah yang dihasilkan baik itu dari makanan sisa pengunjung atau dari proses memasaknya. Contohnya saja, limbah minyak goreng yang jika dikumpulkan bisa menjadi bahan baku biodiesel.

 

Memperbanyak bukaan atau jendela

Selain terlihat lebih instagramable, memperbanyak bukaan atau jendela bisa menghemat listrik. Dengan begitu usaha kuliner yang dibangun pun bisa turut andil dalam mitigasi perubahan iklim.   

 




Sebenarnya tak ada yang sulit jika kita niat melakukannya, mau langkah sederhana seperti menghabiskan makanan saat berwisata kuliner atau mau memulai langkah yang sedikit besar seperti membuka usaha kuliner ramah lingkungan, insya Allah #UntukmuBumiku semuanya bisa kita lakukan. Tak perlu berkecil hati dengan langkah sederhana yang kita lakukan, karena sekecil apapun langkah yang kita ambil tetap akan ada pengaruh nya pada perubahan. Its #TimeforActionIndonesia. Yuk lah #MudaMudiBumi kita buat perubahan dengan langkah sederhana ala masing-masing.

0 komentar:

Posting Komentar