05/12/22

Pentingnya mitigasi Bencana Alam bagi Semua



Ibu pertiwi sedang tidak baik-baik saja. Kalimat ini jadi caption yang lumayan sering aku lihat di akun sosial media teman-teman. Yup, saat ini Indonesia memang sedang tidak baik-baik saja. Belum pulih sepenuhnya dari dampak akibat pandemic Covid-19, beberapa waktu lalu bencana alam pun datang bertubi-tubi. Mulai dari Gempa bumi di Cianjur, gempa bumi di Garut sampai yang terbaru erupsi gunung semeru.

Sebagai warga negara Indonesia, Sebagian besar dari kita tuh sebenarnya ya sudah paham kalau tanah yang dipijak ini berada dalam wilayah ring of fire atau cincin api dunia. Artinya, kita tau betul bahwa bencana alam akan sering terjadi di bumi pertiwi ini, baik itu gempa bumi, tanah longsor sampai erupsi gunung berapi. Edukasi dan sosialisasi tentang ini pun sudah sering didapatkan, tapi sayangnya rasa panik saat bencana terjadi tak jarang membuat semua edukasi itu menguap entah kemana. Oleh karena itu edukasi tentang mitigasi bencana alam harus terus dilakukan secara inklusif.

Saat terjadi gempa bumi yang berpusat di daratan Cianjur, kebetulan aku sedang tidur siang di rumah. Kekuatan gempa yang lumayan terasa hingga ke Bekasi itu cukup untuk membuatku terbangun dari tidur dan langsung membimbing anak-anak keluar rumah. Jika dibandingkan dengan Cianjur, gempa yang terasa di Bekasi ini jelas tidak ada apa-apa nya, tapi segitu saja sudah cukup untuk membuatku panik. Apalagi mereka yang di Cianjur ya, kebayang deh bagaimana paniknya.

Ketika terjadi bencana alam, salah satunya seperti gempa bumi, kemungkinan kita hanya punya waktu yang singkat untuk menyelamatkan diri. Jujur, aku langsung terpikir, bagaimana dengan teman-teman disabilitas atau orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK)? Wong kita yang sehat aja masih suka panik dalam menghadapi bencana, apalagi mereka ya, hiks.

Berangkat dari rasa penasaran pada hal ini, beberapa waktu lalu aku pun mengikuti talkshow melalui youtube live Ruang Publik KBR. Di talkshow tersebut aku mendengar langsung paparan dari Bapak Pagarso, Direktur Direktorat Kesiapsiagaan BNPB dan Mas Bejo, ketua Konsorsium Peduli Disabilitas dan Kusta (Pelita). Ada banyak insight baru soal mitigasi bencana terutama bagi teman-teman disabilitas dan OYPMK yang aku dapat dari talkshow tersebut.

Mas Bejo sempat meceritakan bagaimana ia menyelamatkan diri nya sendiri saat terjadi gempa di Bantul beberapa waktu lalu. Ia pun menceritakan soal banyak nya teman-teman disabilitas dan OYPMK yang membutuhkan pertolongan saat bencana terjadi. Sayangnya, Ketika terjadi bencana alam, semua sibuk menyelamatkan diri hingga tak jarang teman-teman disabilitas dan OYPMK ini jadi terlupakan.

Oleh karena itu butuh edukasi yang lebih inklusif tentang mitigasi bencana alam, terutama bagi teman-teman disabilitas dan OYPMK ini. Teman-teman dengan keterbatasannya ini pun berhak mendapat edukasi soal apa yang harus dilakukan saat bencana, karena biar bagaimanapun orang pertama yang bisa menyelamatkan diri Ketika terjadi bencana adalah diri sendiri.



Tak hanya untuk diri sendiri saja, Ketika sudah berhasil selamat dari bencana, Sebagian besar dari teman-teman disabilitas pun memiliki keinginan untuk bisa membantu masyarakat luas, tentunya dengan menyesuaikan kondisi mereka masing-masing. Keren ya, ditengah keterbatasannya, mereka masih memiliki keinginan untuk membantu sesame. Jujur, mendengar cerita dari mas bejo aku agak tersentil.   

Sebenarnya pemerintah sendiri pun sudah sejak dulu menggalakan edukasi terkait mitigasi benacan alam untuk berbagai pihak. Sebagai contoh di kurikulum sekolah pun sudah ada info terkait ini. Hanya saja mungkin kurang inklusif lagi. Semoga ke depannya, edukasi tentang ini terus digaungkan lagi yaa.

 

0 comments:

Posting Komentar