04/09/23

Bahas Bareng Soal Wanita dan Kusta Yuk!


Standar kecantikan tertentu bagi para wanita rasanya sudah bukan rahasia lagi ya. Entah itu berkulit putih, tinggi semampai, rambut hitam legam dan lain sebagainya. Meski tidak masuk dalam kategori wajib, standar-standar itu akhirnya tetap saja membuat para wanita pun jadi berusaha sebaik mungkin untuk mencapainya. Kalau wanita biasa saja butuh perjuangan untuk memenuhi standar itu, lalu bagaimana dengan para OYPMK atau orang yang pernah mengalami kusta? penasaran dengan hal ini, baca tulisan ini sampai selesai ya.


Jujur, sebelumnya tidak pernah terbersit sama sekali di pikiranku soal hal ini. Bisa jadi karena (Alhamdulillah) tidak ada orang terdekatku yang terkena kusta. Rasa penasaranku akan hal itu justru baru terasa ketika melihat e-flyer talkshow ruang publik KBR yang mengangkat tema “Wanita dan Kusta” di salah satu komunitas blogger yang aku ikuti. 


Yup, seperti yang kita ketahui bersama, Kusta merupakan salah satu penyakit dengan seabreg stigma buruk di baliknya. Untuk para lelaki yang sering cuek dengan penampilan saja, penyakit kusta masih menjadi momok menakutkan, apalagi bagi para wanita, mungkin tak ada kata yang tepat untuk menggambarkannya. Selain berpengaruh terhadap kondisi fisik, penyakit kusta juga dapat merusak mahkota kecantikan yang selama ini dibanggakan oleh para wanita karena karakteristik penyakit kusta memang merusak tubuh.




Nah di talkshow ruang publik KBR kali ini para pendengarnya akan diajak mengulik habis-habisan soal wanita dan kusta langsung dari sumber terpercaya, Kak Yulianti, selaku ketua PerMaTa SulSel & OYPMK Perempuan. Dalam paparannya Kak Yulianti menceritakan kalau ia mengetahui dirinya terkena kusta itu di tahun 2011, tapi ia tidak lantas percaya begitu saja atas apa yang dialaminya. 


Setidaknya ada rentang waktu satu tahun kak Yulianti ‘menolak’ dan menyembunyikan fakta tentang dirinya yang terkena kusta dari keluarga dan orang-orang terdekatnya. Ia mengaku terkena Kusta dari saudara sepupunya yang baru pulang merantau. Awalnya Kak Yulianti menemukan ada bercak putih yang mati rasa di area ibu jari kaki. Berbekal ilmu keperawatan yang ia pelajari di perkuliahan, Kak Yulianti pun akhirnya yakin kalau ia mengalami kusta dan memeriksakannya ke para ahli.


Kak Yulianti menyembunyikan fakta dirinya terkena kusta karena masih takut menghadapi stigma buruk yang ada di masyarakat tentang OYPMK, bahkan ia pun sempat ingin melakukan bunuh diri. Penyakit kusta ini benar-benar merusak semangat hidup beliau sampai akhirnya ia menyadari kalau semua stigma buruk itu tidak semua nya benar. 


Alhamdulillah respon dari keluarga inti Kak Yulianti cukup baik dan memberi support serta dukungan padanya. Meski demikian kak Yulianti sempat menarik diri dari keluarga karena khawatir menularkannya ke keluarga dan orang terdekat. Berdasarkan pengalamannya, Kak Yulianti menyarankan untuk siapapun yang merasakan gejala kusta agar secepatnya berkonsultasi dan memeriksakan diri ke ahlinya di layanan kesehatan seperti puskesmas terdekat.


Kak Yulianti kembali bangkit dan mendapati semangat hidup nya lagi ketika ia bergabung ke PerMaTa, suatu organisasi yang diperuntukkan bagi para OYPMK atau orang yang pernah mengalami kusta. Berada di sekeliling orang yang mengalami hal yang sama, membuat para anggota nya saling berbagi informasi valid dan semangat dalam menjalani kehidupan setelah dinyatakan sembuh dari kusta. 


Tak hanya itu saja, Kak Yulianti pun cukup aktif melakukan sosialisasi tentang penyakit kusta ini pada orang terdekat dan masyarakat sekitar, tentunya dengan bekerja sama dengan pejabat setempat terlebih dahulu. Ternyata Stigma buruk tentang penyakit kusta itu tidak sepenuhnya benar kok, OYPMK pun bisa kembali hidup di tengah masyarakat. Untuk yang penasaran dan ingin tau lebih lanjut soal penyakit kusta, bisa rutin mendengarkan talkshow ruang publik KBR di akun Youtube Berita KBR. 

 

0 comments:

Posting Komentar