Tiap kali aku melewati sepanjang jalan di bantaran Cikarang Bekasi Laut (Kali CBL), ada satu pemandangan yang sukses bikin geleng-geleng kepala, kondisi jalanan tepi kali yang entah kenapa jadi langganan longsor! Padahal kalau dipikir-pikir, perbaikan demi perbaikan sudah terus dilakukan lewat pengecoran semen dan pembetonan. Tapi, alam seolah membuktikan kalau beton buatan manusia pun sering kali kewalahan kalau berdiri tanpa sandaran ekosistem alami.
Keresahan kecil tiap kali lewat jalanan retak di dekat rumah ini awalnya cuma berhenti di kepalaku aja. Sampai akhirnya, momen itu datang waktu aku berkesempatan mengikuti webinar seru bareng Eco Blogger Squad (EBS) yang berkolaborasi dengan The Asia Foundation (TAF).
Di Raja Ampat Mangrove Menjadi Sumber Kehidupan
Webinar kali ini mengangkat tema "Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat". Di acara ini, kami diajak mendengarkan kisah nyata dari Kak Wawiyai Steve bersama masyarakat Kampung Friwen di Raja Ampat. Melalui pendampingan program PAPEDA, warga lokal di sana nggak cuma sukses menjaga hutan pesisir dari ancaman abrasi, tapi juga berhasil mengolah buah mangrove non-kayu menjadi bahan pangan dan produk bernilai ekonomi tinggi.
Insight ini bener-bener membuka mataku. Selama ini, banyak dari kita yang menganggap tanaman pelindung ekosistem itu cuma sebatas benteng fisik penahan gelombang. Padahal, masyarakat Raja Ampat membuktikan kalau menjaga hutan itu sejatinya berarti menjaga sumber pangan kita sendiri (Jaga Hutan = Jaga Sumber Pangan).
Inspirasi hangat dari Papua itulah yang langsung memicu pertanyaan berantai di benakku, "Kira-kira di Bekasi, ada nggak ya tanaman lokal yang punya fungsi ganda kaya gitu? Bisakah tanaman itu menjaga lingkungan sekaligus jadi sumber pangan alternatif?"
Menemukan "Pahlawan Lokal": Pohon Picung alias Kluwek!
Rasa penasaran itu mengingatkanku sama kearifan lokal masyarakat Betawi Bekasi tempo dulu. Dan jawabannya ternyata ada di tanaman legendaris yang biji hitamnya sudah sangat familier di lidah kita, Pohon Picung atau Kluwek (Pangium edule).
Buat para pecinta kuliner khas Bekasi, kluwek jelas bukan hal yang asing lagi. Biji hitam beraroma gurih-khas ini adalah kunci utama di balik kelezatan Sayur Gabus Pucung, hidangan tradisional legendaris yang kaya rempah. Tapi di balik kelezatannya di atas mangkuk, ternyata belum banyak yang tahu kalau pohon picung sebetulnya adalah pahlawan sejati dalam menjaga ekosistem tepi sungai.
Double Job Pohon Picung: Dari Benteng Alami Sungai Sampai Bumbu Dapur
Sama seperti mangrove yang setia menjaga garis pantai, Pohon Picung secara alami diciptakan dengan kemampuan ekologis luar biasa yang punya double job alias fungsi ganda,
1. Benteng Alami Penahan Erosi dan Longsor
Pohon picung dewasa bisa tumbuh menjulang tinggi hingga puluhan meter dengan daun yang rindang. Rahasia utamanya ada di sistem perakaran tunggang dan lateral yang dalam, tebal, serta mencengkeram tanah dengan sangat kuat.
Kalau merunut sejarah lokal, tanaman pucung atau kluwek ini dulu memang selalu jadi andalan nenek moyang kita buat menjaga bantaran sungai biar nggak gampang longsor. Makanya, dulu pohon ini sering banget ditemui di bantaran sungai. Akarnya seperti "pasak bumi alami" yang mengikat tanah lereng sungai supaya tidak mudah tergerus arus deras. Coba bayangkan kalau sepanjang bantaran Kali CBL ini ditanami deretan pohon picung lagi seperti zaman dulu, mungkin drama jalanan longsor nggak perlu terulang terus.
2. Sumber Pangan Alternatif Kaya Nutrisi
Nggak cuma itu aja, bagian biji dari buah picung tua diolah menjadi kluwek melalui proses perebusan dan fermentasi tradisional yang unik untuk menghilangkan kadar asam sianidanya. Setelah aman dan siap olah, kluwek menjadi sumber pangan kaya gizi, antioksidan, dan rempah alami yang nggak cuma menyedapkan masakan Gabus Pucung, tapi juga berpotensi dikembangkan jadi aneka bumbu olahan dan pengawet alami.
Menyambung Solusi Lokal untuk Isu Iklim Global
Ide memanfaatkan kearifan lokal ini terasa makin pas dan relevan dalam menyambut momentum Bangkok Climate Action Week 2026. Ajang internasional ini mengingatkan kita kalau solusi dalam menghadapi perubahan iklim dan erosi lingkungan nggak melulu harus berasal dari teknologi rumit. Aksi nyata justru sangat sering tumbuh dari kearifan komunitas lokal di sekitar kita.
Melihat besarnya potensi Pohon Picung ini, kayanya bakalan seru banget kalau ide alami ini bisa diriset dan dilirik lagi oleh para pemangku kebijakan daerah, bisa kali ya ide ini diriset lagi oleh Kang Dedi Mulyadi atau pemerintah setempat, kali aja beneran bisa jadi solusi konkret kan?! Penanaman kembali pohon peneduh lokal seperti picung di bantaran sungai bukan cuma jadi solusi vegetasi yang menghemat anggaran perbaikan jalan, tapi sekaligus merawat identitas kuliner serta ketahanan pangan lokal kita.
Yuk, Lebih Kenal dan Jaga Pangan Lokal Kita
Pengalaman berharga belajar dari cerita Kak Wawiyai Steve di Raja Ampat hingga melihat langsung kondisi bantaran Kali CBL Bekasi makin memperkuat satu keyakinan, Menjaga alam itu pada dasarnya adalah menjaga piring makan dan masa depan kita sendiri.
Inisiatif keren seperti yang dijalankan oleh The Asia Foundation (TAF) bersama Eco Blogger Squad sukses memberikan kita sudut pandang baru. Kita diajak untuk nggak cuma melihat tanaman sebagai peneduh semata, tapi sebagai bagian penting dari rantai kehidupan dan ketahanan pangan.
Nah, sekarang giliran teman-teman nih! Coba deh tengok lingkungan di sekitar tempat tinggalmu. Ada nggak tanaman unik lokal yang selama ini diam-diam punya double job buat menjaga lingkungan sekaligus jadi sumber pangan? Yuk, tulis di kolom komentar ya!
Artikel ini ditulis sebagai bagian dari kampanye kolaborasi Eco Blogger Squad (EBS) x The Asia Foundation (TAF) dalam menyambut momentum Bangkok Climate Action Week 2026.
#ecobloggersquad #theasiafoundation #solvingtogether #EconomicGrowth #SustainableAgriculture #TAFIndonesia #merawatmimpi #menumbuhkaninspirasi





0 comments:
Posting Komentar