25/07/19

Semangat Diet Sampah dari Odyssey Race for Water



Di masa-masa awal perpindahan ke rumah yang hingga sekarang kami tinggali ini, aku sempat dibuat kaget dengan jarangnya truk pengangkut sampah lewat, malah bisa dikatakan sesuka hati mereka saja. Akibatnya ya bisa ditebak, sampah di rumah pun jadi menumpuk tak terkendali, terlebih bagi keluargaku yang memiliki tiga orang anak pastinya. Meski begitu, aku jelas tak sampai hati jika harus menyalahkan si akang pengangkut sampah tersebut, mungkin saja mereka memang sedikit kesulitan jika harus sering lewat di wilayah kami.

Nah alasan tersebut lah yang membuatku seolah ‘dipaksa’ untuk mengurangi keberadaan sampah dirumah.  Aku pun mulai membiasakan diri, termasuk semua anggota keluarga untuk ‘diet sampah’ dengan berbagai cara, mulai dari mengurangi penggunaan kantong plastic saat berbelanja, hingga membeli produk sehari-hari dalam ukuran besar sehingga dapat meminimalisir sampah yang terbuang.

Kunjungan ke Kapal Odyssey Race for Water dan fakta-fakta tentang sampah yang ditemukan


Mungkin yang kulakukan itu memang hanya sebuah langkah kecil di rumah, tapi ternyata dampaknya bisa besar loh, bahkan lebih besar dari apa yang kita duga. Pemahaman ini berhasil aku dapatkan ketika  berkesempatan untuk mengunjungi kapal Odyssey Race for Water di Batavia Marina, Jakarta beberapa waktu yang lalu.



For your information, Kapal Odyssey Race for Water ini merupakan kapal yang melakukan ekspedisi keliling dunia demi meneliti keberadaan dan kondisi sampah plastik yang ada di pantai-pantai persinggahan. Kapal yang dikelola oleh yayasan Race for Water ini dibuat pada tahun 2010 di Jerman dan mulai berlayar keliling dunia pada tahun 2013.

Setelah melakukan pelayaran selama 5 tahun belakangan ini, para peneliti dari Odyssey ini menemukan beberapa fakta tentang sampah plastik yang ternyata begitu dahsyat mencemari lautan di bumi tercinta kita ini. Secara kasat mata, jika kita melihat ke arah laut, pencemaran dari sampah plastik itu memang tidak begitu terlihat. Alasannya tak lain adalah karena hanya 1-3%  sampah plastik saja yang terlihat di permukaan laut, sisanya menumpuk begitu saja di dasar laut.




Mirisnya, sampah-sampah plastik yang mengendap di dasar laut itu membutuhkan waktu yang amat sangat lama untuk dapat terurai, bahkan bisa sampai ratusan tahun, padahal produksi sampah plastik sehari-hari jumlahnya begitu besar. Jadi, alih-alih teratasi, sampah-sampah itu terus dan terus menumpuk di dasar laut seperti sedang ‘membangun’ pulau sampah saja.

Hanya sampai disitu sajakah dampak dari penumpukan sampah itu…? Ternyata jawabannya tidak… Masih berdasarkan hasil dari penelitian yang dilakukan di kapal Odyssey tersebut, hal yang lebih membahayakan ternyata juga sedang mengintai kita semua, yaitu keberadaan mikroplastik bagi keberlangsungan hidup. Ukurannya memang teramat kecil, namun mikroplastik yang dimakan oleh ikan di laut terbukti membuat adanya perubahan DNA yang membuat penurunan kualitas hidup.



Ini benar-benar bukan suatu masalah yang patut kita sepelekan, dan masalah pencemaran laut ini juga bukan semata-mata hanya masalah satu negara saja, tapi semua negara yang ada di muka bumi ini harus sama-sama mencari solusi nya secara mufakat. Semangat inilah yang terus digembar-gemborkan oleh Race for Water di setiap negara persinggahannya.

Menariknya, agar lebih bisa menyampaikan semangat Go Green nya, kapal Odyssey ini berkeliling dunia hanya mengandalkan bahan bakar yang ramah alam saja loh, yaitu dengan menggunakan tenaga surya, angin dan hidrogen. Di awal ekspedisi mereka hanya mengandalkan tenaga surya saja, namun seiring berjalannya waktu dan penelitian terus dilakukan demi mendapat sumber energi lain, akhirnya digunakanlah tenaga angin dan hidrogen sebagai sumber energi lain.  

Mulai diet sampah dengan beberapa hal ini saja...


Memahami satu per satu penjabaran saat berkunjung ke kapal Odyssey itu, membuatku semakin yakin untuk terus melakukan diet sampah dan menularkan semangat ini pada orang di sekitarku. Kalau bukan kita yang memulai lalu siapa lagi…? Kalau bukan sekarang, lalu mau kapan lagi…? Sebenarnya ada banyak langkah nyata yang bisa kita ambil demi menjaga bumi tercinta ini loh, beberapa contoh yang sudah berhasil aku lakukan di rumah adalah sebagai berikut,

 1.       Gunakan kantong belanja yang bisa digunakan lagi.


Serius deh, cara ini benar-benar bisa mengurangi sampah rumah tangga hingga 50%, aku sendiri telah melakukannya. Coba saja ingat ada berapa kantong plastik dalam satu kali berbelanja ke pasar jika tanpa diet plastik, mungkin jumlahnya bisa mencapai puluhan saking banyaknya. Kebiasaan beda warung beda kantong plastik harus dipangkas demi diet sampah ini.

 2.       Beli produk dalam ukuran besar


Coba deh, biasakan membeli produk sehari-hari dalam jumlah yang besar jangan dalam kemasan sachet. Insya Allah sampah pun akan jauh berkurang.

 3.       Sedia botol minum dan tempat makan


Sekarang aku pun mulai membiasakan anak-anak untuk membawa botol dan tempat makan sendiri saat ke sekolah. Selain bisa mengurangi sampah, aku juga bisa sekaligus memeriksa jajanan apa yang mereka beli saat di sekolah dari sisa makanan yang ada di tempat makan nya tersebut.

 4.       No sedotan


Awalnya aku hanya mengganti sedotan plastic dengan sedotan yang bisa digunakan kembali seperti sedotan stainless atau sedotan bambu, tapi ternyata penggunaan sedotan seperti ini tidak ramah anak. Suatu waktu anak bungsu ku pernah terluka karena salah menggunakannya, jadi mulai dari situ aku lebih memilih untuk tidak menggunakannya lagi.

 5.       Pilah sampah sesuai jenisnya


Aku sendiri memang sudah bekerja sama dengan salah satu pemulung yang sering lewat depan rumahku. Sampah yang bisa didaur ulang seperti botol plastik sudah aku pisahkan di tempat tersendiri yang mudah diambil oleh mereka. O iya keberadaan pemulung ini juga mendapat epresiasi loh dari para peneliti di kapal Odyssey, Indonesia tuh termasuk Negara yang beruntung karena keberadaan mereka. Kenapa…? Karena di beberapa negara masalah sampah ini menjadi sulit teratasi akibat tidak adanya pemulung yang memilah sampahnya. Jadi, jangan meremehkan profesi mereka ya…

 6.       Gunakan kembali yang masih bisa digunakan.


Ini biasanya aku terapkan di sampah dapur. Ada banyak contoh sampah dapur yang bisa kita gunakan untuk fungsi lain loh, contohnya saja saat kita memasak telur, putih telur yang tersisa di cangkang bisa langsung digunakan sebagai masker dan kulit telurnya bisa dihaluskan untuk pupuk tanaman. Dengan begitu sampah dapur bisa berkurang drastis deh.




Kurang lebih sih 6 hal itu saja yang sudah aku terapkan sebagai langkah awal untuk mengurangi sampah. Hanya langkah kecil, amat jauh dari apa yang dilakukan oleh Race for Water, tapi lebih baik daripada hanya bisa diam di tempat tanpa melakukan apa-apa. Jadi, yuk mulai langkah nyatamu untuk mengurangi sampah…


0 komentar:

Posting Komentar