29/04/22

menekan kemubaziran bisa mengurangi dampak perubahan iklim, Kok Bisa?

 

Meski pas siang nya banyak yang berpuasa, di bulan Ramadan masyarakat justru cenderung lebih konsumtif. Rasanya  semua cemilan ingin diborong untuk menu buka puasa. Iya nggak sih? Jujur, aku pun sempat kalap saat membeli takjil di awal Ramadan. Tujuan nya sih memang untuk memberi semangat pada anak-anak yang sedang berpuasa, tapi akhirnya malah berujung sedih melihat banyak makanan yang tidak habis, huhuhu.

Dalam hati aku berjanji, insya Allah kedepannya akan lebih jeli lagi saat mengukur takaran menu untuk keluarga agar tidak sampai ada lagi makanan yang tersisa. Perlahan aku juga mulai memberi penjelasan pada anak-anak dan Alhamdulillah mereka bisa memahaminya.  Aku anggap ini sebagai langkah kecil ku sebagai seorang ibu dalam menekan kemubadziran pangan dan melestarikan bumi.

Loh apa hubungannya menekan kemubadziran pangan dengan melestarikan bumi? Aku juga baru menyadari hubungan kedua nya itu setelah mengikuti acara peringatan Hari Bumi Sedunia 2022 yang diadakan oleh Foodbank of Indonesia beberapa waktu lalu. Ternyata langkah kita menekan kemubadziran pangan memiliki dobel manfaat, salah satunya bisa berarti ikut melestarikan bumi.


Penjelasannya gini, makanan sisa yang terbuang dan kemudian tertimbun di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akan melepaskan gas metan (CH4) ke lingkungan. Nah gas metana ini adalah gas rumah kaca yang 25 kali lebih ganas dari karbondioksida (CO2) sehingga dapat mempercepat pemanasan global. Tanpa ditambah dengan efek rumah kaca dari gas metan tersebut saja, pemanasan global sudah berjalan dan menyebabkan adanya perubahan iklim yang cukup drastis.

Artinya, jika kita bisa mulai langkah kecil dari rumah dengan tidak menyisakan makanan dalam keseharian, maka sama dengan ikut mengurangi efek rumah kaca dari gas metan tersebut. Langkah kecil tapi berdampak besar.  

Nah pada peringatan Hari Bumi Sedunia itu, Foodbank of Indonesia bersama para mitra nya dari perwakilan JNE dan Superindo membangun kesadaran dan mengajak lebih banyak pihak bergerak bersama mengurangi kemubaziran pangan, menyelamatkan bumi dan mengakhiri kelaparan. Dalam acara yang berlangsung di Pasar Tebet Timur ini, secara simbolis pedagang sayur dan dunia usaha menyerahkan bahan pangan berlebih kepada FOI yang diterima aoleh pendiri FOI, M Hendro Utomo.


For your information, FOI sebagai bank pangan Indonesia memang menerima kelebihan bahan pangan dari berbagai pihak untuk kemudian diolah dan disalurkan kembali menjadi makanan layak konsumsi untuk mereka yang membutuhkan. Meski dikatakan sebagai kelebihan bahan pangan, insya Allah bahan-bahan pangan yang diterima oleh FOI tersebut masih amat layak untuk diolah kok.

Sebagai contoh seperti yang dilakukan oleh Superindo. Sudah beberapa tahun terakhir ini, Superindo memang secara rutin mengirimkan bahan pangan berlebih yang tidak terjual pada FOI melalui JNE. Bahan pangan berlebih yang tidak terjual itu bukan berarti tidak layak olah, tapi memang karena harus mengikuti regulasi pemerintah terkait beberapa hal. 

Meski layak olah, bahan pangan tersebut tidak dapat dijual di Superindo. Nah daripada akhirnya dibuang dan menjadi penyumbang gas metan tadi, Superindo pun memilih untuk mendonasikannya kepada FOI agar dapat diolah kembali dan disalurkan pada mereka yang membutuhkan.



Begitupun yang diikuti oleh para pedagang di Pasar Tebet Timur ini. Nantinya, bahan pangan layak olah yang tidak terjual itu akan dikirim melalui JNE ke FOI. Keren yaa, semua saling bersinergi satu sama lain dengan mengandalkan apa yang bisa dilakukan oleh masing-masing pihak. Bisa dilihat, meski JNE tidak ikut menyumbangkan bahan pangan, tapi mereka ikut berkontribusi untuk mengirim kan nya ke FOI.

Dari situ aku belajar, kalau kita semua bergotong royong dengan apa yang kita miliki, insya Allah tujuan pun akan lebih mudah tercapai. Superindo dan para pedagang di Pasar Tebet Timur ‘bergerak’ dengan bahan pangan nya, JNE ikut andil dalam distribusi nya, FOI sebagai pengelola, dan kita semua sebagai ibu rumah tangga pun bisa ikut andil dengan mengelola menu harian keluarga agar tak bersisa.

Sekecil apapun yang kita lakukan, insya Allah akan tetap memberi dampak pada hasilnya kok. Tetap semangat dan sehat selalu.

0 komentar:

Posting Komentar