06/11/22

Serunya Belajar Tentang Wakaf di Care Visit Bersama Dompet Dhuafa

 


“Berkreasi merangkai aksara untuk memahat sejarah”, begitu bunyi tagline dari blog yang sedang kalian baca ini. Yup, tagline tersebut berasal dari harapan ku sebagai penulis di blog ini agar setiap kenangan dalam episode kehidupan ku akan tercatat dalam sejarah. Tak perlu sampai masuk ke dalam buku sejarah di kurikulum sekolah, tercatat di blog ini saja sudah cukup buat ku.

Aku sadar waktu terus berlari dan keterbatasan ku sebagai manusia membuat semua terasa begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku main di sawah dekat rumah, tau-tau sawah itu sudah berubah menjadi apartemen bergengsi. Tanpa sadar usia dan pemikiran ku tentang hidup pun terus bertambah. Aku yang sekarang memang sedikit lebih ‘serakah’, tak lagi hanya berharap bisa mencatat sejarah saja, tapi mengharapkan ‘keabadian’.



Tenang, ‘serakah’ yang aku maksud di sini masih positif kok, karena aku lebih serakah dan mengharapkan keabadian nya itu lewat wakaf yang memang disyariatkan. Loh kok gitu?  Emang bisa? Apa hubungannya sih keabadian dan wakaf? Nah ini nih yang akan aku bahas di tulisan kali ini, baca sampai selesai yaa.

 

Wakaf dan Keabadiannya

Tau soal wakaf ini sebenarnya sudah dari kecil karena memang diajarkan dalam pelajaran Agama di sekolah, tapi jujur benar-benar paham soal manfaat wakaf bagi pemberdayaan umat ya baru belakangan ini saja. Apalagi beberapa waktu lalu aku sempat diajak Care visit Bersama Dompet Dhuafa ke Desa Tani yang merupakan salah satu wilayah pemberdayaan nya.


Dalam acara Care Visit itu aku belajar banyak soal wakaf dan keabadiannya. Wakaf bagi manusia kurang lebih sama dengan tulisan bagi sang penulis, sama-sama akan menciptakan keabadiannya masing-masing. Perbedaanya ada di dimensi keabadian itu, tulisan memang memahat sejarah tapi hanya di dunia saja, sementara wakaf bisa sampai akhirat. Yup, wakaf adalah salah satu ibadah yang bisa menciptakan keabadian nya sendiri.

Sedikit berbeda dengan sedekah, wakaf yang diterima akan terus dimanfaatkan oleh sang penerima nya karena bersifat utuh dan terpelihara. Manfaat yang berkelanjutan itu membuat pahala nya terus mengalir bahkan hingga kita meninggal.  Itulah yang menjadi keistimewaan wakaf.


Sayangnya, sejak dulu masyarakat selalu mengidentikan wakaf dengan tanah atau bangunan yang nominal materi nya lumayan besar. Alhasil wakaf jadi seperti ibadah mahal yang tak terjangkau untuk kalangan tertentu. Faktanya, wakaf tak melulu harus dengan nominal besar kok, bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Contohnya saja di Dompet Dhuafa kita bisa berwakaf mulai dari 100 ribu saja.

Kerennya, wakaf di Dompet Dhuafa yang ngga harus selalu dengan nominal besar itu, bisa bermanfaat untuk pemberdayaan masyarakat agar lebih produktif lagi. Iyes, Sebagian besar wakaf yang terkumpul di Dompet Dhuafa memang diberdayakan untuk menjadi wakaf produktif, salah satu contohnya adalah Desa Tani yang kami kunjungi saat Care visit beberapa waktu lalu itu.

(Desa Tani)

Desa Tani, Berdaya di Lahan Sendiri

Desa Tani yang berlokasi di daerah Lembang, Bandung, berawal dari keinginan masyarakat setempat untuk bisa lebih berdaya di lahan sendiri. Dengan bantuan pemberdayaan dari Dompet Dhuafa, Desa Tani yang awalnya hanya beranggotakan 12 orang penerima manfaat, terus berkembang hingga saat ini.

Seperti Namanya, wakaf produktif dari Dompet Dhuafa ini memang membuat masyarakat nya jauh lebih produktif. Alih-alih memberi bantuan 'ikan', Dompet Dhuafa lebih memilih memberi 'kail' nya, begitu perumpaannya. Tak hanya lahan seluas lebih dari 10 hektar saja, Dompet Dhuafa juga ikut mendukung Desa Tani dengan berbagai program lain seperti pembuatan Green House dan pemberdayaan lansia berstatus single parent.

( Penerima manfaat Green House Dompet Dhuafa)

Pembuatan sebuah green house memang memakan biaya yang tidak sedikit, namun jika sdah terbangun, hasilnya akan jauh lebih maksimal. Apalagi green house yang diberdayakan oleh Dompet Dhuafa di Desa Tani ini sudah menggunakan teknologi smart farming. Green House mampu merekayasa cuaca sehingga dapat menghasilkan panen yang lebih berkualitas.

Tak kalah keren, program pemberdayaan lansia berstatus single parent yang digagas Dompet Dhuafa di Desa Tani pun membuatku takjub. Para lansia single parent hanya perlu menyiapkan lahan saja untuk kemudia dibangunkan sebuah green house. Selain membuat mereka jauh lebih produktif, penghasilan dari green house pun cukup untuk membuat para lansia tersebut tak lagi bergantung pada anak-anak nya lagi.


Saat care visit berlangsung, kami diajak ikut memanen hasil tanam nya Bersama ibu-ibu di Desa Tani tersebut. Melihat langsung senyum kebahagiaan dari para ibu Tani itu membuat aku terharu, wow kebayang ngga sih wakaf yang bisa dimulai dengan nominal kecil itu ternyata bisa membuat ibu-ibu di Desa Tani itu tersenyum Bahagia. Aku yakin kalau kalian melihat langsung senyum-senyum itu pun pasti akan ikut terharu juga.

Tak hanya Desa Tani Lembang saja, wakaf yang terkumpul di Dompet Dhuafa juga diberdayakan untuk wakaf produktif lainnya, seperti Kampung Ternak di Sukabumi,  Kebun Buah Naga dan Nanas di Subang dan masih banyak lagi. Beberapa pengalaman saat berkunjung ke desa-desa itu juga sempat aku tulis di blog ini kok.

 

Mudahnya Semesta Berwakaf di Dompet Dhuafa


Hal yang paling aku suka dari Dompet Dhuafa adalah berbagai kemudahan yang ditawarkannya. Baik sedekah, zakat atau wakaf bisa dilakukan secara online melalui laman web https://donasi.dompetdhuafa.org/wakaferse.  Saat mengunjungi laman itu, kita juga akan disuguhkan beberapa info seputar Wakaferse terlebih dulu sebelum diarahkan ke laman untuk melakukan wakaf online. Metode pembayaran wakaf di Dompet Dhuafa pun cukup beragam, mulai dari dompet digital yang biasa kita pakai hingga transfer via bank tersedia.

Jadi, tunggu apalagi? Jangan sampai kita belum berwakaf saat habis usia yaa. Sayang banget, ada kesempatan untuk ‘abadi’ tapi malah diabaikan begitu saja. Manfaat nya besar tapi mudah dilakukan, yuk mulai rutin wakaf di Dompet Dhuafa.

 

0 komentar:

Posting Komentar