29/06/19

Susah berhenti merokok...? cek dulu beberapa hal ini...



Saat seorang laki-laki dewasa mengucapkan ijab kabul di depan penghulu, maka pada saat yang bersamaan pula, tanggung jawab yang tadinya diemban oleh orangtua si wanita akan langsung beralih padanya. Raga serta jiwa laki-laki yang telah menikah itu tidak lagi miliknya seorang, karena ada kewajiban yang harus ia tunaikan pada wanita yang telah ia nikahi tadi, termasuk untuk urusan menjaga kesehatannya sendiri.

Sayangnya dalam menjaga kesehatan tersebut, banyak lelaki dewasa yang mengabaikannya dengan terus merokok, meski tak kupungkiri juga kalau ada wanita yang ikut-ikutan merokok. Padahal aku yakin, sebagian besar dari mereka paham betul akan bahaya rokok terhadap kesehatan diri dan orang sekitarnya.




Jujur aku sendiri sedikit gagal paham soal ini, disatu sisi mereka bilang tau kalau rokok itu bisa membunuhnya, namun disisi lain mereka terus saja melakukannya demi kata ‘kenikmatan’ tanpa menghiraukan akibat yang mungkin saja bisa dirasakan oleh diri sendiri maupun orang sekitarnya, bahkan mungkin dapat juga dirasakan oleh orang-orang yang ’katanya’ mereka cintai itu.

Aku sempat berpikir, apa menurut mereka istri maupun anaknya itu hanya seharga rokok yang ia agung-agungkan tersebut...? Mungkinkah ia akan lebih memilih Rokok dibanding keluarganya jika disuruh memilih...? namun hingga saat ini pertanyaan tersebut tidak pernah terjawab. Entah karena memang tidak ada jawabannya atau karena aku sendiri yang takut mendengar jawabannya tersebut.

Workshop blogger kesehatan dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia


Pembahasan soal Rokok ini cukup menarik perhatianku, inilah yang kemudian membuatku begitu antusias ketika mendapat undangan workshop blogger kesehatan yang sengaja dihelat oleh Kementrian Kesehatan RI dalam rangka memperingati hari tanpa tembakau sedunia beberapa waktu yang lalu.  



Workshop tersebut berlangsung selama dua hari dengan materi yang amat berisi. Meski workshop ini bertepatan dengan hari tanpa tembakau sedunia, materi yang dbawakan tidak melulu seputar tembakau dan rokok saja. Pada hari pertama, kami, para peserta workshop itu diajak berdiskusi langsung dengan para ahli seputar penyakit tidak menular yang setiap harinya seolah tak berhenti meningkat di Indonesia.

Dalam materinya, dr. Theresia Sandra Diah Ratih MHA, selaku perwakilan dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, sempat mengemukakan bahwa ada begitu banyak faktor risiko yang tanpa disadari ternyata amat dekat dengan keseharian kita di Indonesia.




Setidaknya 80% Penyakit tidak menular ini disebabkan oleh perilaku tidak sehat, seperti Kurang aktivitas fisik, kurang mengkonsumsi buah dan sayur, Kebiasaan merokok dan lain sebagainya.  Pemerintah sendiri melalui kementrian kesehatan sudah sejak lama menggaung-gaungkan kampanye hidup sehat dengan tajuk GERMAS atau Gerakan Masyarakat Hidup Sehat.

GERMAS memiliki rumus peningkatan gaya hidup sehat yang disingkat menjadi CERDIK dan PATUH. Penjelasan selengkapnya soal CERDIK dan PATUH ini pernah aku ulas di tulisan sebelumnya, tepatnya di tulisan berjudul Mau kendalikan tekanan darahmu…? Cek dulu beberapa hal ini…

Secara singkat CERDIK ini adalah rumus promosi kesehatan untuk mengatasi penyakit tidak menular,
C    = Cek kondisi kesehatan secara berkala
E   = Enyahkan asap rokok
R   = Rajin aktivitas fisik
D   = Diet sehat dengan kalori seimbang
I   = Istirahat yang cukup
K   = Kendalikan Stress



Sementara PATUH ditujukan untuk mereka yang sudah dinyatakan menyandang penyakit tidak menular dan sengaja dibuat agar mereka semakin rajin kontrol dan minum obat serta tetap semangat menjalani hari.

P   = Periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter
A   = Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat dan teratur
T   = Tetap diet sehat dengan gizi seimbang
U   = Upayakan beraktivitas fisik dengan aman
H   = Hindari rokok, alkohol, dan zat karsinogenik lainnya

Susahnya berhenti merokok, mungkin inilah sebabnya…


Nah, jika kita perhatikan rokok ternyata mendapat tempat khusus dalam pengendalian penyakit tidak menular yang digaungkan oleh Kementrian kesehatan RI, tegok saja bahkan kata ‘Enyahkan asap rokok’ tersebut bisa berada diatas aktivitas fisik. Ini jelas bukan tanpa alasan, Permasalahan seputar rokok dan dampak yang ditimbulkannya memang tidak bisa dianggap sepele.




Beruntungnya, pada hari kedua workshop blogger kesehatan tersebut, aku berkesempatan untuk mengunjungi RSU Persahabatan yang merupakan rumah sakit rujukan respirasi nasional untuk lebih memperdalam lagi materi tentang rokok dan dampaknya. Aku jelas tidak akan melewatkan begitu saja kesempatan besar ini.

Menurut Dr Feni Fitriani Taufik, Sp.P (K), meski kita merasa gemes bukan main melihat para perokok itu, kita juga tidak boleh serta merta menyalahkan mereka begitu saja. Alasannya adalah karena memang sebenarnya bukan keinginan mereka untuk terus kecanduan dengan rokok tersebut.




For your information, kandungan nikotin yang mengalir dalam darah terbukti akan membantu pelepasan dopamin menjadi lebih mudah sehingga memberikan efek nyaman bagi mereka. Sampai di sini mungkin kita akan berpikiran positif  terhadap rokok tersebut, terutama bagi mereka yang memang sedang mengalami tekanan hidup. Namun ternyata nikotin juga akan mengurangi kemampuan tubuh dalam memproduksi dopamin tadi secara alami, hingga pada akhirnya mereka tidak bisa merasa nyaman jika tanpa bantuan nikotin tersebut. Inilah yang kemudian membuat mereka kecanduan nikotin.

Kabar buruknya adalah dampak dari rokok tersebut tidak langsung dirasakan saat ini, tapi akan berdampak besar di masa depan.  Untuk memberikan gambaran nyata pada para peserta workshop, setelah menerima paparan materi itu, kami pun diajak melihat langsung kondisi penderita kanker rokok stadium 4 yang tengah menjalani perawatan di RSU Persahabatan.




Sebut saja beliau pak Agus ( nama samaran ), mengaku telah menjalani perawatan kanker nya selama setahun belakangan ini. Ia sudah menjadi pecandu rokok sejak usia 15 tahun, karena saat ini usia beliau telah menginjak 65 tahun, maka sama artinya sudah 50 tahun rokok menemani hari-harinya.

Dulu ia sama sekali tidak pernah terbersit untuk berhenti merokok karena kenikmatan yang ditawarkan oleh rokok itu sendiri. Namun sekarang setelah merasakan langsung bagaimana sakitnya dampak dari rokok yang dulu menjadi sahabatnya itu, ia benar-benar menyesal dan menitipkan salam pada semua pembaca blog ini untuk senantiasa menjauhi rokok.

Sayangnya, seperti yang sudah aku jelaskan diatas, berhenti merokok itu bukanlah perkara semudah membalikkan telapak tangan. Butuh niat dan tekad yang kuat serta dukungan dari orang terdekat. Oleh karena itu RSU Persahabatan selaku Rumah sakit rujukan respirasi nasional pun membuka layanan klinik berhenti merokok bagi mereka yang serius ingin berhenti merokok.

Di klinik yang langsung ditangani oleh dr Feni tersebut, para perokok akan diberikan konsultasi, terapi dan obat-obatan khusus guna mengurangi dampak dari ketidaknyamanan akibat berhenti merokok. Dengan begitu, diharapkan proses berhenti merokok akan lebih mudah.



Jadi buat kalian yang memang serius bertekad untuk berhenti merokok bisa langsung mengunjungi Klinik Berhenti Merokok RSU Persahabatan atau bisa juga menghubungi Quitline berhenti merokok Kemenkes RI di 08001776565.

O iya buat kalian yang pengen tau lebih jauh soal Penyakit Tidak Menular, termasuk soal dampak rokok ini bisa langsung tengok ke website resminya di http://p2ptm.kemkes.go.id/ dan akun sosial media P2PTM sebagai berikut,

Instagram : @p2ptmkemenkesri
Twitter : @p2ptmkemenkesri

Nah terakhir, aku mewakili para istri di Indonesia ingin mengatakan pada kalian wahai para suami tercinta, “Kami ingin kalian berhenti merokok semata-mata karena berharap dapat hidup bahagia bersama kalian lebih lama...”

  



0 komentar:

Posting Komentar