Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

19/01/22

Review Film Merindu Cahaya de Amstel

Merindu Cahaya de Amstel

Nyatanya, kisah cinta segitiga tak selama nya membosankan untuk diikuti. Makna inilah yang kudapatkan saat berkesempatan menonton film Merindu Cahaya de Amstel pada acara pers conferencenya beberapa waktu lalu. Percaya lah, mengemas ‘hal biasa’ menjadi luar biasa ini tak mudah, butuh skill menulis tingkat dewa yang harus dimiliki, dan Kak Arumi E, penulis novel Merindu Cahaya de Amstel, ini pun berhasil membuktikannya.

Jujur, aku belum membaca novel asli dari Merindu Cahaya de Amstel yang merupakan karya kedua dari kak Arumi E ini, bahkan membaca sinopsis yang biasanya betebaran di laman media sosial pun sengaja tak kulakukan. Alasannya tak lain adalah karena aku memang ingin benar-benar menikmati alur cerita nya tanpa spoiler sedikit pun saat pertama kali menonton film itu di acara tersebut.  


Merindu Cahaya de Amstel, Kisah Cinta Segitiga Penuh Inspirasi


Singkatnya, Merindu Cahaya de Amstel ini menyajikan Kisah cinta segitiga antara Khadijah yang diperankan oleh Amanda Rawles, Nico (Bryan Domani), dan Kamala ( Rachel Amanda). Nah yang membuatnya jadi luar biasa untuk diikuti adalah karena tambahan premis penuh makna berupa perjalanan spiritual warga asli Belanda yang akhirnya menginspirasi muslim Indonesia untuk jadi lebih baik.  

Latar  yang dipilih sebagai lokasi film ini pun tak main-main, benar-benar di Amsterdam, Belanda, sesuai dengan latar dari kisah dalam novel nya. Sepanjang penayangan film Merindu Cahaya de Amstel ini penonton seolah diajak jalan-jalan secara virtual ke negeri kincir angin tersebut.

Merindu Cahaya de Amstel


Tak hanya latar kisahnya saja yang akan memanjakan penonton, tapi ada banyak insight baru dari quote-quote yang disampaikan oleh para pemainnya. Sedikit cerita, proses reading dari film yang disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu ini dilakukan sampai 2 bulan loh. Hal ini karena para pemain dan kru benar-benar berhati-hati dalam pemilihan kata dan penuturannya, agar apa yang ingin disampaikan bisa diterima dengan baik tanpa terkesan menggurui.

Gini, bicara soal religi ini kan berkaitan erat dengan keyakinan seseorang. Tentu tak mudah untuk bisa menyampaikannya secara halus dan mengena. Sebagian besar orang tak suka kalau dinasehati secara langsung bukan?! Nah film Merindu Cahaya de Amstel ini ingin memberikan inspirasi secara halus pada para penontonnya.

Merindu Cahaya de Amstel


Sebagai contoh, dalam satu adegan ada pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang tokohnya, ‘kenapa seorang wanita muslim harus berhijab?’ kurang lebih begitu pertanyaannya. Aku terkesan dengan jawaban yang diberikan. Ustadzah Oki tak lantas memberikan dalil-dalil dalam bahasa arab tapi justru mengumpamakan dengan dua buah permen, yang satu sudah dibuka dan yang satu masih tertutup.

Ia menggenggam kedua permen tersebut dengan kedua tangannya, lalu memberikan pilihan pada si penanya. Manakah yang lebih baik untuk dipilih? Jawaban dari pertanyaan tersebut, secara tak sadar sudah menjawab pertanyaan soal hijab tadi. Sungguh jawaban yang cerdas.

Selain pertanyaan soal hijab, ada banyak quotes lain yang insya Allah akan menginspirasi penonton. Jangan kan penontonnya, para pemainnya pun mengaku mendapat pengalaman spiritual yang berbeda selama dan setelah proses syuting film ini. Semua jadi tersentil untuk lebih baik lagi.

Merindu Cahaya de Amstel


O iya, meski film ini masuk kategori drama religi, ada tambahan humor dari Ridwan Remin yang berperan sebagai Joko, teman Nico  yang membuat penonton terhibur. Kehadiran Joko ini membuat suasana jadi makin lengkap, romansa nya dapet, religi nya ada, plus kocak nya pun ada.  

Film ini sebenarnya sudah selesai syuting dua tahun yang lalu, namun sayang, karena pandemi film Meirndu Cahaya de Amstel ini pun baru bisa ditayangkan pada Januari 2022. Tepatnya, serentak tayang di seluruh bioskop yang ada di Indonesia pada tanggal 20 Januari 2022. Jadi, jangan lupa luangkan waktu dan ajak orang terdekatmu yaa.

 

This entry was posted in

14/02/20

Ada yang Ga Bisa Move On dari Mantan ? Nonton Film Toko Barang Mantan Aja



Jujur, kalau ditanya apakah aku masih menyimpan barang peninggalan mantan atau tidak, aku sedikit bingung jawabnya, bagaimana mau punya barang mantan kalau mantannya saja aku tidak punya. Biarpun orang dengan status mantan itu tak pernah ada dalam hidupku, namun sedikit banyak aku juga tau bagaimana peliknya move on dari para mantan itu, karena sering jadi tempat curhat teman yang mengalami nya.

Sebagian curhatan temanku berisi tentang masalah yang akhirnya membuat mereka pasrah dengan kata putus demi kebaikan bersama. Daannn di antara seabreg masalah tersebut, kebanyakan adalah karena perbedaan sudut pandang antara cowo dan cewe yang entah mengapa susah sekali untuk disatukan. Aku sendiri ga bisa begitu saja menyalahkan para cewe yang katanya terlalu baper itu, tapi juga tidak bisa sepenuhnya mengkambing hitamkan para cowo yang selalu terkesan cuek. Sebenarnya pangkal dari masalah tersebut adalah perbedaan sudut pandang saja.



Jika bisa menyatukan perbedaan itu, maka tak akan pernah ada yang menyandang status sebagai mantan. Nah, kalaupun terpaksa ada yang harus menjadi mantan, ya bukan berarti dunia berhenti sampai di sini saja, kita kan tetap harus melanjutkan hidup. Sayangnya, banyak dari temanku itu yang mengaku kesulitan untuk bisa move on dan melanjutkan hidupnya karena mengaku masih sayang dengan sang mantan.

Dari situ pula lah aku mengambil kesimpulan kalau cara terbaik untuk bisa move on dari para mantan adalah dengan membuang semua kenangan bersamanya, termasuk barang-barang peninggalan sang mantan itu pastinya. Nah kisah seputar perbedaan pandangan yang sering ada antara cowo dan cewe serta sulitnya move on dari sang mantan yang masih dikasihi inilah yang kemudian menginspirasi MNC Pictures untuk menggarap film bertajuk Toko Barang Mantan.




Aku berkesempatan untuk menonton film tersebut lebih awal dari yang lain, tepatnya pada acara press screening yang dihelat di epicentrum beberapa waktu yang lalu. Film ini mengisahkan tentang kisah cinta Tristan yang diperankan oleh Reza Rahadian dan sang mantan, Laras yang dibintangi oleh Marsha Timothy. Diceritakan dalam film tersebut kalau Tristan membuka sebuah toko bernama Toko barang Mantan.

Sesuai dengan namanya, toko tersebut melakukan jual beli barang peninggalan mantan lengkap dengan kisah yang menyertainya.ide toko itu yang out of the box ternyata tidak membuat perjalanan bisnis Tristan mulus tanpa kendala, terlebih ketika Tristan harus bertemu kembali dengan sang mantan, Laras yang membangkitkan kenangan masa lalunya.

Awalnya aku pikir, film Toko Barang Mantan ini akan menjadi film yang menguras air mata, karena sepanjang pengalamanku mendengar curhatan teman-teman soal mantan mereka, rasanya sedikit sekali yang memancarkan aura bahagia, kebanyakan adalah kesedihan saja. Tapi ternyata, hal ini tidak sepenuhnya benar, Film Toko Barang Mantan berhasil mengemasnya dengan cara yang ringan lengkap dengan lelucon-lelucon kece nya. Baper nya jelas ada, namun mengingat sepanjang penayangan film ini kita akan dihibur dengan berbagai lawakan ringannya, maka film ini pantas untuk menyandang genre komedi romantis.

Cerita yang diangkat begitu relevan dengan kehidupan sehari-hari. Jangan dilihat dari sisi aku yang tidak pernah punya mantan, tapi tengok saja di luar sana ada begitu banyak orang yang kesulitan move on dari sang mantan, dan film ini seolah mewakili perasaan mereka soal para mantannya tersebut. Jadi, buat kalian yang ingin move on dari sang mantan, jangan ragu buat jadwalin acara nonton film Toko Barang Mantan ini persis di tanggal cantik 20-02-2020 ya… Nonton Film Toko Barang Mantan, lalu hempaskan sang mantan dan kenangannya, maka kalian akan siap emnjemput kebahagiaan yang menanti.

21/07/19

Film Koboy Kampus, Buka-bukaan soal Masa Muda Pidi Baiq


film koboy kampus


Jujur, aku sempat bingung dengan apa yang ada dalam pikiran para koboy kampus yang seolah hanya membuang-buang waktu dan uang saja tanpa memikirkan masa depannya. Koboy kampus ini bisa dikatakan sebagai istilah yang sering disematkan pada para mahasiswa yang tak kunjung menyelesaikan kuliahnya karena berbagai macam alasan. Ada banyak sekali mahasiswa seperti ini di kampus-kampus ternama, bahkan orang sekelas ayah Pidi Baiq, sang penulis novel best seller Dilan, pun pernah menyandang gelar Koboy Kampus itu.  

Pandangan negatif terhadap mereka yang menyandang gelar tersebut jelas tak bisa dihindarkan, namun keberhasilan ayah Pidi Baiq saat ini seperti membuktikan pada dunia bahwa seorang koboy kampus pun bisa meraih kesuksesan yang diinginkan. Dari situlah ayah Pidi pun berinisiatif untuk membagikan kekonyolan masa mudanya saat menjadi koboy kampus di Institut teknologi Bandung tempatnya berkuliah dalam film berjudul Koboy Kampus yang akan tayang serentak di bioskop pada tanggal 25 Juli 2019 nanti.

Kurang lebih sama dengan sosok ayah Pidi saat ini yang humble dan berselera humor tinggi, ternyata masa mudanya pun tak jauh-jauh dari kedua sifat tersebut. Dalam film bergenre drama musical ini,  Pidi yang diperankan oleh Jason Ranti, mengajak teman-teman se-genk nya di jurusan seni rupa ITB untuk membuat sebuah Negara sendiri bernama Negara Kesatuan Republik The Panasdalam.

film koboy kampus


Alasan dibuatnya Negara baru ini tak lain adalah karena Pidi merasa tidak puas dengan teman-temannya sesama mahasiswa yang berdemo menentang pemerintah Indonesia kala itu. Menurutnya, daripada harus lelah berdemo tapi tidak mendapat apa yang diinginkan ya lebih baik buat saja negara sendiri. Terdengar agak bernuansa politik ya, namun tenang aja di film ini kita tidak akan melihat urusan-urusan politik yang njelimet itu, karena sepanjang penayangan film ini kita akan dimanjakan dengan kekonyolan demi kekonyolan para warga Negara The Panasdalam tersebut.

O iya meski dikatakan sebagai Negara baru, Negara kesatuan republic the panasdalam ini hanya memiliki luas sebesar ruang seni rupa di ITB saja, lucunya mereka bahkan menyediakan tempat untuk (ceritanya) kedutaan besar Inggris yang dipimpin oleh salah satu teman bule mereka. Ada ada saja memang kekonyolan warga Negara binaan ayah Pidi ini..

O iya, buat kalian yang pada tahun 1998 sedang menyandang status sebagai mahasiswa, kalian bisa sekaligus bernostalgia dengan film ini loh, karena memang setting waktu nya berada di era tersebut. Tapi tenang aja, buat yang pada saat itu tidak menjadi mahasiswa pun tetap bisa menikmati alur ceritanya kok, contohnya saja aku yang pada tahun 1998 itu masih duduk di bangku sekolah dasar, harus diakui sih ada beberapa part yang tidak kumengerti, tapi sama sekali tidak menggangu alur ceritanya.

film koboy kampus


For your information, film ini diproduksi oleh 69 Production dan MNC Pictures dengan dibintangi actor-aktor ternama yang pastinya sudah tidak diragukan lagi kualitasnya, seperti Jason Ranti ( Pidi Baiq ), Ricky Harun ( Ninuk ), Bisma Kharisma ( Deni ), David John ( Erwin ), Miqdad Auddasy ( Dikdik ), dan masih banyak lagi actor lainnya.

Aku sendiri sudah menonton film Koboy kampus pada saat berlangsungnya Press Screening nya beberapa waktu yang lalu, dan aku memberi rating 7/10 untuk film ini. So, buat kalian yang memang ingin tau kisah masa muda dari ayah Pidi Baiq, kalian wajib nonton film Koboy Kampus ini pada tanggal 25 Juli 2019 nanti ya…

This entry was posted in

23/06/19

Belajar makna kegagalan di film Koki Koki Cilik 2




Ternyata jika kita mau sedikit menelaah lagi soal makna dari sebuah kegagalan, maka ada kemungkinan kita akan menemukan hal positif alih-alih hanya sebagai suatu masa keterpurukan belaka. Mungkin saja Dia sengaja memberikan kegagalan agar kita bisa belajar untuk segera bangkit dan jadi lebih baik lagi. Namun sayangnya sebagian besar dari kita tuh tidak beranggapan demikian, masih amat banyak yang justru semakin terpuruk saat harus menerima kegagalan.

Oleh karena itu tentu akan amat baik jika kita bisa menanamkan arti dan makna sebenarnya dari kegagalan ini pada anak-anak sedini mungkin, agar kelak mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang melihat kegagalan itu dari segi positif. Nah, kabar baiknya adalah sebentar lagi kita dapat mengenalkan hal tersebut dengan cara yang pastinya akan disukai oleh anak-anak, yaitu dengan mengajak mereka nonton film Koki Koki Cliki 2 yang akan tayang serentak di bioskop pada tanggal 27 Juli 2019 nanti.



Berbeda dengan film pertamanya yang lebih didominasi dengan pelajaran tentang arti berkompetisi satu sama lain, film kedua Koki Koki Cilik ini memang lebih mengajarkan tentang arti dari kegagalan tersebut. Jujur, aku sendiri agak tersentil saat mendengar soundtrack dari film yang disutradarai oleh Viva Westi itu dalam press screaning-nya beberapa waktu yang lalu.

“mengapa ada kata gagal lagi…? Supaya kita bisa bangkit lagi, tegaklah berdiri, lompatlah lebih tinggi ”, kurang lebih itu sepenggal bait dari soundtrack-nya yang kuingat. Maknanya cukup dalam bukan…?! Menariknya, meski cukup ‘berat’, lagu tersebut tetap terasa ringan karena dibawakan dengan nuansa keceriaan khas anak-anak. Insya Allah sih anak-anak akan lebih mudah memahami arti nya.



O iya biarpun tidak sempat menonton film pertamanya, kita tetap bisa mengikuti alur ceritanya, karena di awal film Koki Koki Cilik 2 itu ada sedikit flashback cerita dari film pertamanya. Film Koki Koki Cilik 2 ini diawali dengan adegan saat geng Koki Koki Cilik yang terdiri dari Bima ( Faras Fatik ), Melly ( Alifa Lubis ), Kevin ( Marcello Mahesa ), Alfa ( Ali Fikri ), Niki ( Clarice Cutie ), dan Key ( Romario Simbolon ) bermaksud mengadakan reuni di cooking camp tempat mereka berkompetisi serta belajar memasak, namun sayangnya mereka justru menemukan cooking camp telah ditutup. Nah dari situlah timbul keinginan kuat untuk mendirikan kembali cooking camp dengan berbagai macam cara.

Cerita pun bertambah seru dengan kehadiran Adit ( Muhammad Aditya ) yang bercita-cita menjadi seorang chef namun memiliki kepribadian yang tertutup setelah kepergian ibunya. Awalnya adit sempat tidak berminat gabung di cooking camp, tapi ia pun berubah pikiran setelah merasakan langsung kebersamaan dari geng koki koki cilik yang begitu solid.



O iya sedikit perbandingan dengan film pertamanya, ada beberapa aktor yang memang terpaksa ditiadakan dalam film keduanya karena beberapa alasan, salah satunya adalah karena sang pemain yang sudah terlihat dewasa dan agak kurang cocok untuk memerankan kembali karakter anak-anak. Tapi tenang saja, sebagai gantinya, dalam film Koki Koki Cilik 2 ini juga ada beberapa pemain baru yang tidak ada di film sebelumnya, diantaranya adalah karakter Adit yang diperankan oleh Muhammad Aditya, Tante Adel ( Kimberley Rider) dan Chef Evan (Christian Sugiono ). Keberadaan karakter-karakter baru ini diharapkan dapat menambah greget film Koki Koki Cilik 2 pastinya.

Nah, karena saat ini masih dalam nuansa libur sekolah, maka film Koki Koki Cilik 2 ini bisa dijadikan alternatif pilihan untuk mengisi masa liburan anak-anak. Jadi jangan ragu deh buat mengajak anak-anak nonton film Koki Koki Cilik 2 ini di tanggal 27 Juli 2019 nanti ya…

       

This entry was posted in

28/10/18

Menyamakan arti dari suami dan istri dalam film 3 Dara 2



Ada begitu banyak perbedaan yang cukup signifikan antara perempuan dan laki-laki, namun ketika si perempuan dan laki-laki tersebut memutuskan untuk menjadi sepasang suami istri maka seharusnya semua perbedaan tadi tuh menjadi sama. Jika masih ada perbedaan diantara mereka itu berarti mereka sendirilah yang membuat perbedaan tersebut.

Namun sayangnya ini hanya teori saja, karena kenyataanya masih banyak pasangan suami istri yang justru malah memperlebar perbedaan tersebut dengan berlindung dibalik kata kewajiban masing-masing. Sebagai contoh saja, masih banyak kaum suami yang menganggap remeh pekerjaan ibu rumah tangga, bahkan sampai tidak mau sama sekali membantu sang istri untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Padahal kan katanya mau susah senang bersama jika sudah menjadi pasangan, masa gotong royong dalam pekerjaan rumah tangga saja sudah tidak mau.

Kurang lebih makna inilah yang aku tangkap dalam film terbaru dari MNC Picture, Film 3 Dara 2, ketika aku bersama beberapa teman ikut menyaksikan nya pada sabtu, 27 Oktober 2018 lalu. Film yang sebenarnya sudah mulai tayang dibiskop sejak tanggal 25 Oktober 2018 lalu itu memang cukup menarik perhatianku karena keviralan review positif dari para teman blogger lain.

Film yang disutradarai oleh Monty Tiwa ini menceritakan tentang jatuh bangunnya ketiga sahabat, Affandi yang diperankan oleh Tora Sudiro, Jay (Adipati Dolken), dan richard (tanta Ginting) untuk dapat melalui masa-masa sulit karena terbelit hutang akibat tertipu milyaran rupiah. Kondisi tersebut diperparah dengan tugas sang istri yang terpaksa harus mereka ambil alih karena para istri pergi bekerja demi mempercepat pelunasan hutang milyaran rupiah tersebut.

Tak sampai disitu saja ujian yang diperoleh ketiga sahabat itu, ada juga ketakutan demi ketakutan saat mereka harus berhadapan dengan eyang putri, mertua dari Affandi yang diperankan oleh Cut Mini. Belum lagi mereka juga harus memikirkan cara agar orang yang menipu mereka tadi dapat segera ditemukan demi kembalinya uang serta aset bernilai puluhan milyar rupiah milik mereka yagng hilang tadi.

Membaca kisah nya sih memang terkesan sedih, tapi di film ini kisah sedih itu malah dikemas begitu cantik menjadi komedi yang membuat para penontonnya ketawa sepanjang penayangan. Bahkan ada satu adegan yang jika dilihat sekilas tuh persis adegan di film horor namun berhasil dijadikan humor juga oleh para pemainnya. Dan akupun sukses dibuat tertawa terbahak-bahak sepanjang penayangan film ini.



O iya kalau sebelumnya kalian belum nonton film 3 Dara yang pertama, kalian tidak perlu khawatir karena meski dibilang sekuel dari film pertamanya dan memiliki aktor serta peran-peran yang sama, namun kisah yang diceritakan pada masing-masing film tersebut berlainan, jadi kita bisa langsung nonton 3 Dara 2 tanpa harus melihat film yang pertama.

Baiknya sih film ini ditonton oleh pasangan agar bisa sama-sama belajar tentang arti dari kesamaan tanggung jawab diantara pasangan, baik itu kewajiban istri maupun kewajiban suami. Ada banyak scene yang jika dilihat bersama cukup membut kita tersentil. Adegan-adegan dalam film ini tuh benar-benar terasa dekat dengan kehidupan rumah tangga dan pasti berhasil membuat kita bergumam “kaya ayah tuh” atau “persis mama tuh”. hehehe...

Satu lagi yang aku suka dari film 3 Dara 2 ini adalah humor yang ditampilkan tuh bener-bener terlihat tidak dibuat-buat sama sekali, padahal tidak semua pemainnya merupakan aktor komedi. Tidak gring sama sekali, kalau kata anak sekarang mah, pokoknya kalian semua wajib banget nonton film ini bareng pasangan masing-masing deh...

Aku sih udah nonton Film 3 Dara 2, kalian sudah nonton juga belum nih...?

This entry was posted in

14/07/18

Arti Keluarga dalam film Ant-Man and The Wasp

Keluarga yang utuh dan bahagia jelas menjadi impian setiap orang, maka tak heran banyak diantara kita yang akan berusaha sebisa mungkin untuk dapat terus bersatu dalam naungan kata keluarga itu sendiri. Sayangnya, jalan hidup seseorang tak selamanya sesuai dengan apa yang diinginkan, ada saja hal-hal yang menghalangi mimpi kita tersebut.

Kurang lebih makna inilah yang aku tangkap dalam film Ant-Man and the wasp ketika aku mengikuti acara Nonton Bareng bersama Vivalog beberapa waktu yang lalu. Film tersebut mengisahkan tentang bagaimana perjuangan pasangan anak dan ayah, Hope Van Dyne yang diperankan oleh Evangeline Lily dan Hank Pym ( Michale douglas) dalam membawa kembali ibu Hope, Janet Van Dyne (Michele Pfeiffer) agar mereka bisa menjadi satu keluarga utuh dan bahagia lagi.



Demi tujuan tersebut, Hank Pym dan Hope Van Dyne meminta bantuan Scott Lang yang diperankan apik oleh Paul Rudd untuk bersama membangun terowongan dengan teknologi kuantum yang mereka kembangkan. Sayangnya, ada pihak lain yang juga menginginkan terowongan berteknologi kuantum tersebut, Ghost, yang hadir mengacaukan proses transaksi pembelian suku cadang tambahan yang diperlukan untuk menyelesaikan terowongan itu.

Sepanjang jalan nya penayangan film Ant-Man and The Wasp tersebut, para peserta nonton bareng bersama Viva log ini benar-benar merasa terhibur dengan adanya aksi-aksi laga khas film produksi Marvel Studio. Tentunya seperti biasa juga, selalu ada saja adegan kocak yang membuat para penonton tertawa terbahak-bahak diantara selingan adegan aksi laganya tersebut, bisa dibilang film ini berhasil mengaduk emosi penontonnya banget deh.

O iya awalnya aku pikir film ini merupakan clue lain dari kelanjutan Avengers : Infinity Wars yang baru dua bulan lalu tayang di bioskop Indonesia. Pastinya masih inget dong ya akhir kisah film tersebut yang agak sedikit ‘menggantung’ itu, namun menurutku sih film ini seolah memang ‘berdiri’ sendiri. Kita tak akan menemukan spider-man atau thanos dalam film ini lah pokoknya mah...



Adegan aksi heroiknya pun memang tidak seheboh Avengers : Infinity Wars, tapi paling tidak dalam film ini kita bisa dibuat takjub dengan adegan mengecil dan membesar yang begitu cepat seolah menghilang khas Ant-Man, dan tentunya film ini bisa kita jadikan selingan sembari menunggu sekuel film Avengers tayang nanti.  

Intinya, film ini layak banget deh kita tonton sebagai hiburan diantara rutinitas harian kita yang ga ada habisnya. Paling pas kalau ditonton bersama pasangan, agar selain dapat keseruannya kita juga dapat makna untuk saling menghargai dan terus bersatu sama lain seperti keluarga Hope Van Dyne dan Hank Pym pastinya.

Psssttt... seperti biasa, setelah filmnya selesai jangan buru-buru bangun dari kursi penonton ya... ada sedikit ‘kejutan’ loh....







This entry was posted in

03/07/18

Belajar berkompetisi sehat di Film Koki-Koki Cilik

Berkompetisi atau bersaing agaknya memang amat sulit untuk kita hindari dalam menjalani keseharian, baik itu kompetisi resmi dalam berbagai perlombaan maupun kompetisi terselubung satu sama lain. Meski seringkali kompetisi itu membuat seseorang menjadi ‘gelap mata’ namun sebenarnya dengan berkompetisi kita dapat merasakan berbagai macam manfaat, seperti dapat lebih mengembangkan serta mengukur kapasitas diri sendiri misalnya.

Oleh karena itu tentu akan amat bagus jika kita sudah mengajarkan anak-anak untuk dapat berkompetisi secara sehat sedini mungkin, dan sebentar lagi kita bisa mengenalkan anak-anak tentang hal ini dengan cara yang menyenangkan loh... Yup, apalagi kalau bukan dengan mengajak mereka nonton film Koki-Koki Cilik yang akan tayang serentak di Bioskop pada tanggal 5 Juli 2018 ini.

Aku yang notabene sudah memasuki usia dewasa ini justru mendapat arti dan sisi lain dari kompetisi sehat melalui film besutan sutradara Ifa Isfansyah ini saat berkesempatan mengikuti press screeningnya beberapa waktu yang lalu bersama para teman blogger dari Blogger Crony Community.

Dalam film tersebut, berkompetisi itu sendiri disajikan dalam sudut pandang anak-anak lengkap dengan dunia mereka yang ceria dan penuh tawa. Dikisahkan bagaimana perjalanan seorang anak bernama Bima yang diperankan oleh Farras Fatik dalam mengikuti kompetisi memasak di Cooking Camp. Bima yang bermimpi menjadi seorang chef seperti ayahnya itu benar-benar berusaha untuk menjadi pemenang dalam cooking camp tersebut.

Menariknya adalah Bima harus berkompetisi sehat melawan peserta lain yang notabene adalah teman-temannya sendiri. Tantangan demi tantangan dari Chef Grant (Ringgo Agus Rahman), dan pak Malik (Adi kurdi)sang pemilik cooking camp pun harus dilalui Bima dan peserta kompetisi lainnya seperti Audrey (Chloe X), Niki (Clarice Cutie), Key (Romaria), Melly (Alifa Lubis), Alva (Ali fikri), Ben (Cole Gribble), Jodi (Clay Gribble), Kevin (Marcello), dan Oliver (Pattrick).


Para pemain menyanyikan soundtrack bersama Romaria


Sesuai dengan pasar yang ditujunya, film produksi MNC Pictures ini memang menyajikan nuansa keceriaan dunia anak-anak itu sendiri.Film ini berhasil mengolah kata ‘kompetisi’ menjadi suatu hal yang amat menyenangkan lewat kenaturalan akting para tokohnya dan keceriaan soundtrack nya yang langsung dibawakan oleh semua pemain featuaring Romaria.

Dan ternyata akting para pemainnya yang natural ini tak luput dari kekompakan para kru film tersebut dalam menyajikan nuansa syuting layaknya tempat bermain saja. Suasana syuting film yang diproduseri oleh Toha Essa itu dibuat sedemikian rupa agar semua pemain merasa nyaman.

Tak hanya itu saja, demi memunculkan kesan natural pada adegan memasaknya, para pemain pun mendapat pelatihan memasak langsung dengan Chef Agus, sang chef ternama di salah satu kompetisi memasak, tentunya juga dengan cara yang fun dan disukai oleh anak-anak. Bahkan Morgan Oey yang berperan sebagai Chef Rama pun mengaku kalau sekarang sudah lebih mahir dalam mengolah makanan.  

Bersama Farras fatik (Bima)


Nah, karena sekarang masih dalam masa liburan kenaikan kelas, tidak ada salahnya lah ya kalau kita mengajak para buah hati kita untuk belajar lebih jauh tentang arti kompetisi sehat dengan menonton film Koki-Koki Cilik ini. Insya Allah mereka akan mendapat banyak pelajaran bermakna yang baik untuk bekal mereka kelak saat harus berkompetisi dalam kesehariannya.

Jadi, jangan ragu lagi deh atur jadwalmu di tanggal 5 Juli 2018 buat ajak anak-anak ke bioskop ya...


Instagram : @film_kokikokicilik
Facebook : MNCP Movie
Twitter : @mncp_movie
Youtube : MNCP Movie



This entry was posted in

18/03/18

Ber-kasarung ria bareng Sule di Hongkong Kasarung

Senantiasa memiliki pemikiran yang positif terhadap apapun tentu menjadi idaman bagi setiap orang, karena terbukti dengan ber-positive thingking hidup akan terasa lebih tenang dan indah. Sayangnya bagi beberapa orang dengan kategori positive thinking tingkat tinggi, hal ini justru akan menjadi kelemahan tersendiri.

Ya, terlalu banyak ber-positive thingking seringkali membuat seseorang menjadi mudah untuk ‘dimanfaatkan’ oleh orang-orang yang kurang bertanggung jawab. Hal ini lah yang kemudian diangkat oleh Heru Iswanto dalam film Hongkong Kasarung yang ia produseri dibawah naungan Rumah Produksi Artomoro Pictures.



Film yang sudah mulai tayang pada tanggal 15 Maret 2018 di bioskop tersebut menceritakan tentang sosok bujang bandung bernama Sule ketika terpaksa harus ber-kasarung ria di Hongkong. Awalnya, Sule bermaksud menjadi TKI di Malaysia karena ‘dendam’ saat mendapati kekasihnya Iis (diperankan oleh Selvi Kitty) berpaling pada Cecep (Uus) yang terlihat mapan setelah pulang dari Malaysia.

Tekad kuat Sule untuk merubah nasibnya dan dapat ‘dipandang’ oleh Iis tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Mang Saswi yang diperankan Sas Widjanarko untuk mencari #pemasukan tambahan agar ia dapat mewujudkan impiannya berlibur ke Hongkong.

Kepolosan yang lengkap dengan pemikiran-pemikiran positif khas urang sundanya justru membawa pria bernama lengkap Sutisna tersebut pada petualangan yang tidak pernah terbayangkan olehnya.
Nasib serta keberuntungan membawanya masuk dalam lingkar Hongkong Kasarung yang melibatkan beberapa kenalan baru dengan berbagai karakter, dari mulai gadis cantik berjiwa petualang bernama Aline (Pamela Bowie), Pak Rengga (George Rudi) sang pengusaha sukses asal Indonesia, Bos K (Iwa K) sang preman Hongkong sampai pembunuh bayaran yang biasa dikenal dengan panggilan The Bag (Volland Volt).



Alhamdulillah Sule tidak sendirian dalam menghadapi situasi Kasarung nya tersebut, ada Makmur (Ery Makmur)TKI Hongkong yang merupakan teman lama Sule dan Rizky (Rizky Febian) sang pemuda Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Hongkong. Mereka senantiasa membantu Sule dalam petualangannya tersebut.

Meski bergenre drama komedi, film yang disutradarai oleh Eric Satyo ini tidak melulu berisi guyonan atau lelucon semata, tapi juga aksi laga serta adegan yang dijamin bikin para penonton terharu. Lewat film ini kita bisa menyaksikan ‘sisi lain’ dari ayah kandung Rizky Febian yang ternyata jago baku hantam.

Selain para tokoh utama diatas, film ini juga diramaikan dengan para pemeran pendukung lain yang tak kalah cetar seperti, Yatie Surachman, Parto Patrio, Dicky Chandra, Agus Kuncoro, Idan Suparo, dan tokoh yang begitu membekas dihati, Rebecca. Adakah yang sudah kenal dengan Rebecca...? kalau belum kenal kalian wajib nonton film ini.

“Kasarung” sendiri merupakan kosakata dalam bahasa sunda yang berarti tersesat. Menurut Heru Iswanto yang juga merupakan directur Artomoro Pictures, pemilihan kata kasarung ini diniatkan untuk mengangkat budaya sunda yang menjadi salah satu setting film ini ke masyarakat Indonesia secara luas.

Jujur, tema ‘kepolosan’ yang diangkat dalam film ini terasa begitu dekat denganku, oleh karena itu aku benar benar bersemangat saat mendapat undangan dari Blogger Crony Community untuk menghadiri Press Screening nya pada 12 Maret 2018 di XXI Plaza Senayan, Jakarta. Dan benar saja, selain membuatku terpingkal-pingkal oleh lelucon khas Sule yang alami, film ini sukses membuatku ‘tersentil’ sepanjang penayangannya.



Sosok Sule yang sedikit terlihat seperti Kabayan tersebut membuatku seolah ‘berkaca’ diri. Berpikiran positif pada sesuatu itu amat dianjurkan tapi tetap harus pada porsinya karena pada kenyataannya tidak semua orang itu baik. Bahkan seringkali, apa yang kita lihat ‘baik’ di depan belum tentu merupakan tampilan aslinya. Jadi bersikap waspada pada semua orang juga penting agar kita tidak mudah dibodohi oleh orang yang kurang bertanggung jawab.

O iya, meski tidak sampai berdarah-darah, beberapa adegan baku hantam dalam film ini membuat kita sebagai penonton harus sedikit bijak. Film ini jelas mencantumkan genre usia 13+ yang tentunya telah melalui tahapan-tahapan dari Lembaga Sensor Indonesia, jadi please banget jangan ajak anak dibawah usia tersebut untuk ikut menonton ya...

Nah buat kalian yang kepengen ikut tertawa terbahak-bahak serta ingin menyaksikan Sule beradegan laga, Hayuk atuh cepet ke bioskop terdekat karena film ini sudah mulai tayang sejak tanggal 15 Maret 2018. Pssttt... kalau butuh teman tertawa jangan lupa ajak dan traktir aku nonton ya...  




This entry was posted in

12/01/18

Mengenal Adat Istiadat Masyarakat Bugis Makassar lewat film Silariang : Cinta yang (tak) direstui

Pernikahan yang notabene bertujuan untuk menyatukan dua anak manusia yang sedang dimabuk asmara seringkali justru harus berakhir tragis dalam kata ‘perceraian’ jika tanpa persiapan yang matang, Banyak sekali tantangan serta hambatan yang akan mengiringi baik sebelum ataupun sesudah pernikahan itu sendiri, terutama dari segi keluarga.

 Ya,memang benar yang menikah itu mungkin hanya ‘si pasangan’ itu saja, tapi tak dapat dipungkiri juga kalau andil keluarga besar amatlah penting. Bisa dikatakan kalau menikah itu juga sama artinya dengan menyatukan dua keluarga besar.

 Sayangnya, dua insan yang berada dalam lingkup kata ‘cinta’ tadi seringkali seolah dibutakan oleh ‘si cinta’ itu sendiri. Bahkan banyak yang sampai harus melawan ‘adat istiadat’ yang telah turun temurun dilakukan loh... Hal ini lah yang coba diangkat oleh Inipasti Communika dan Indonesia Sinema Persada dalam film perdana mereka yang bertajuk “ Silariang : Cinta yang ( tak ) direstui”. 

Film yang dibintangi oleh Bisma Karisma, Andania Suri, serta Dewi Irawan tersebut mencoba menyuguhkan kisah cinta dua insan yang tak direstui dengan latar belakang adat istiadat di kalangan Bugis Makasar.



Film yang disutradarai oleh Wisnu Adi tersebut menceritakan tentang kisah cinta Yusuf ( Bisma Karisma ) sang putra tunggal pengusaha dan Zulaikha ( Andania Suri ) sang putri bangsawan Bugis. Kisah cinta mereka berdua harus terganjal restu orang tua yang sama sama masih memegang adat istiadat.
 Garis darah yusuf yang meski terhitung orang berada tapi secara adat hanya ‘orang biasa’ itu dianggap tidak pantas untuk mendampingi Zulaikha yang notabene adalah seorang putri bangsawan Bugis. Dan Silariang ( kawin lari ) pun harus mewarnai perjalanan kisah cinta mereka berdua.

Ichwan Persada selaku produser film yang juga dibintangi oleh aktor aktor berbakat Makasar ini, berhasil mengangkat kisah cinta yang seolah terkesan biasa banget ini menjadi tontonan yang amat layak untuk ditonton oleh masyarakat luas. Produser asli Makasar ini coba menyuguhkan bentang alam serta adat istiadat Makasar yang seringkali luput dari perhatian masyarakat Indonesia.



 Jujur inilah yang membuatku begitu takjub oleh film tersebut saat aku diundang untuk ikut menghadiri screening film nya pada tanggal 10 Januari 2018 yang lalu. Aku, bersama teman teman blogger dari komunitas Tau Dari Blogger yang bukan orang Makasar ini jadi mendapat pengalaman serta pengetahuan baru soal adat istiadat Makasar. Bagaimana tidak...? dari awal sampai akhir cerita saja bahasa yang digunakan dalam film tersebut bukanlah bahasa indonesia melainkan Bahasa Bugis Makasar Sendiri. Ini jelas memberikan ‘Rasa’ yang berbeda pastinya.

Akting para pemain utamanya pun patut diacungi jempol, Mereka benar benar apik memerankan perannya masing masing. Apalagi dalam film yang akan tayang pada tanggal 18 Januari 2018 tersebut juga didukung oleh aktor aktor yang memang asli orang Makasar seperti Nurlela M. Ipa, Muhary Wahyu Nurba, Sese Lawing, Cipta Perdana, Fhail Firmansyah dan sejumlah pendukung berbakat Makasar lainnya. 

Dalam mendalami karakternya, Andania suri yang mendapat treatment khusus karena memerankan seorang putri bangsawan Makasar itu, mengaku sempat mengalami kesulitan tersendiri. Ia membutuhkan waktu hampir 3 bulan untuk mendalami peran dan latihan dialek Makasar. Hanya saja hal ini sama sekali tidak mempengaruhi hasil akhir dari akting nya yang terhitung sukses memerankan tokoh Zulaikha.



Berbeda dengan Andania Suri, Bisma Karisma justru mengaku kalau proses pendalaman karakter Yusuf yang ia perankan tidaklah terlalu sulit, ia hanya butuh waktu kurang lebih 2 minggu saja untuk observasi di Makasar dan proses reading di Jakarta. Menurut aktor yang juga dikenal sebagai salah satu personil boyband Smash tersebut, tantangan terbesarnya justru adalah kondisi di lapangan saat syuting yang berat karena cuaca disana sedang tidak stabil.  

Secara keseluruhan, film ini amat layak untuk kita masukan dalm list film yang akan kita tonton di bulan Januari ini. Film ini memberikan nilai plus pada para penikmatnya untuk lebih mengenal adat istiadat Makasar, sebuah wilayah di Indonesia yang seringkali luput dari perhatian kita. Karena sesungguhnya Indonesia bukan hanya Jakarta atau Pulau Jawa saja, tapi Indonesia adalah keseluruhan wilayah dari Sabang sampai Merauke, Jadi jangan sampai hanya budaya Jawa saja yang kita tau ya... yuk belajar mencintai budaya serta adat istiadat lain selain daerah asal kita....

   





This entry was posted in

05/12/17

"Chrisye Dalam Sudut Pandang Yanti", Di Film Chrisye

"Di balik kesuksesan seorang pria pasti ada wanita hebat di belakang nya" begitu ungkapan yang seringkali aku dengar. Sosok seorang wanita dalam mendukung kesuksesan lelakinya amatlah penting dan tidak bisa dipandang sebelah mata. 

Agaknya ungkapan ini memang bukan sekedar omong kosong belaka, lihat saja sosok sosok terkenal seperti  ibu ainun yang selalu ada dibelakang  BJ Habibie, atau seperti ibu Ani yudhoyono yang selalu ada di belakang bapak Susilo Bambang Yudhoyono sang presiden RI ke enam kita. 


Ungkapan Ini pula yang agaknya menggambarkan kisah hidup seorang maestro Indonesia, Chrisye dalam menapaki jenjang kesuksesan karir bermusiknya. Ada sosok seorang Damayanti Noor, sang istri yang selalu ada di belakangnya dan selalu siap mendukung kapanpun diperlukan.

Bagi para penggemar, sosok chrisye mungkin hanya terlihat sebagai seorang penyanyi saja, tapi tidak bagi Yanti. Chrisye bagi yanti adalah suami sekaligus ayah dari keempat anaknya yang kadang kuat menanggung beban tapi tak jarang pula butuh support serta dukungan penuh dari nya selaku istri. 

Sosok Chrisye dari sudut pandang Yanti inilah yang kemudian menjadi inspirasi dibuat nya Film Bertajuk Chrisye yang akan tayang serentak pada tanggal 7 desember 2017 nanti. Selain untuk memperlihatkan sisi lain kehidupan seorang Chrisye, Film yang disutradarai oleh Rizal Mantovani ini  diharapkan dapat menebus kerinduan para penggemar penyanyi bersuara khas tersebut.


Film ini menceritakan soal konflik nyata alm. Chrisye semasa hidupnya. Sejak remaja, Chrisye yang diperankan oleh Vino G Bastian ini, harus diam diam mencuri kesempatan untuk dapat bermusik dan menentang keinginan sang ayah untuk menjadi seorang insinyur. Dengan gigihnya ia membuktikan pada sang ayah, yang diperankan oleh ray sahetapi, bahwa bermusik memang merupakan jalan hidup yang ia pilih.

Konflik batin pun berlanjut ketika ia telah menikahi Yanti,yang diperankan oleh Velove Vexia, dan telah dikaruniai empat orang anak. Saat Chrisye berada di atas puncak kesuksesannya, ia justru merasa begitu  'kosong'. kekosongan yang tanpa sebab dan tidak diketahui penyebabnya bahkan oleh diri nya sendiri. 

kekosongan demi kekosongan yang ia alami tersebut akhirnya terjawab oleh kolaborasi cantik yang ia lakukan dengan taufik Ismail dalam lagu berjudul " Ketika tangan dan kaki berkata". lagu ini bisa dibilang merupakan titik balik kehidupan seorang Chrisye, yang benar benar ia 'pegang' bahkan hingga ajal menjemputnya.


Dalam Press Screening yang dilakukan pada tanggal 1 desember 2017 di XXI epicentrum, Vino G Bastian  mengaku awalnya berat membawakan peran sosok sebesar Chrisye, tapi berkat dukungan serta kekompakan tim film Chrisye yang sudah seperti keluarga bagi nya ini, ia berhasil dengan baik memerankan nya. 

Alhamdulillah aku yang saat itu juga mendapatkan kesempatan menyaksikan film ini bersama teman teman dari Blogger Crony Community, benar benar menikmati akting kak vino yang ciamik. Gesture tubuh, serta wardrobe yang digunakan olehnya pun secara tak langsung membuat kangen karena kental nya nuansa tahun 80 an.


Raga Chrisye mungkin memang sudah terkubur tapi karya karya nya akan selalu ada dihati para penggemarnya...
This entry was posted in